Diberi Hadiah Pakubuwono II setelah Menumpas Pemberontak

237

Desa Sewulan memiliki situs sejarah yang cukup tua. Ada masjid dan makam Kiai Ageng Basyariah. Konon bangunan masjid itu ada sejak tahun 1972. Semuanya masih terjaga dan terawat. Itu semua tak lepas dari peran Abdul Rohman bin Kiai Muhammad Komaruddin yang bertugas menjadi juru kunci.

FATIHAH IBNU FIQRI, Dagangan

KOMPLEKS makam itu cukup luas. Terlebih lapangan parkirnya. Gapura yang baru dipugar sebulan lalu tampak megah. Jika lurus memasuki gapura, terdapat pintu masuk makam. Ada makam Kiai Ageng Basyariah ada di bagian kanan jalan dari pintu masuk. Tepatnya di belakang masjid Agung Sewulan. Makam itu tak hanya makam Kiai Ageng Basyariah atau yang dikenal dengan Raden Mas Bagus Harun, tapi juga keturunannya.

Makam itu terdapat dalam sebuah ruangan. Di atas kijing terdapat kain yang membentang untuk menutupi. Sementara, di depan nisan terdapat nama-nama almarhum. Pun, Kiai Basyariah berada di tengah dan diapit oleh putranya.

Saat itu Radar Madiun berada di lokasi, sedang ada kunjungan dari santri Ponpes Al-Hudaa Dusun Setemon, Desa/Kecamatan Kebonsari, Madiun. Abdul Rohman, selaku juru pelihara pun tak hanya mempersilakan para peziarah untuk masuk ke dalam ruangan makam. Pun, sudah menjadi kewajiban baginya untuk memberikan penjelasan mengenai sejarah Kiai Ageng Basyariah. ’’Kebetulan saya juga masih keturunannya, sehingga saya tahu cukup banyak,’’ ungkapnya.

Pria 63 tahun itu baru tiga tahun ini resmi memangku tanggung jawab sebagai juru pelihara makam dan masjid Kiai Ageng basyariah. Pun, rumahnya memang tak terlalu jauh dari kompleks tersebut. Hanya berjarak sekitar 500 meter. Tentu, hal itu memudahkan baginya untuk mengontrol. Terutama kebersihannya mengngat banyak sekali para peziarah yang adatng ke sana. ’’Dari beragam kalangan, ada ulama hingga pejabat,’’ ungkapnya.

Pensiunan PNS itu mengakui kalau sebelumnya dia sudah ditunjuk jadi juru pelihara. Namun, karena dulu dirinya masih berstatus PNS tentu tak boleh merangkap. Setelah pensiun dan PNS, dia pun benar – benar boleh untuk mendampingi para peziarah untuk memberikan sekelumit kisah dari Kiai Ageng Basyariah semasa hidup. ’’Karena, sebenarnya Kiai Ageng itu bukan orang asli Madiun, melainkan asli Ponorogo,’’ katanya.

Kiai Ageng Basyariah adalah putra dari Adipati Eyang Nolojoyo. Pun, dia menjadi santri dari Kiai Muhammad Besari yang saat itu memiliki pondok pesantren di Tegalsari. Didapuk menjadi santri yang paling sakti, Kiai Ageng Bayariah yang dulu dikenal dengan nama Bagus Harun itu sempat diutus untuk mendampingi Pakubuwono II saat ingin kembali ke kerajaan pada saat pemberontakan Mataram. ‘’Karena sakti mandraguna, Kiai Ageng pun juga bisa mengalahkan para pemberontak itu,’’ ungkapnya.

Kemudian, saat akan kembali ke Ponorogo, Kiai Ageng Basyariah diberi hadiah berupa tanah kamardikan, payung Songsong, dan lampit atau tikar dari rotan. Namun, saat sampai di Ponorogo, Kiai Ageng Basyariah justru membuang payung songsong dan juga lampit tersebut ke kedung Bang Pluwang. Lantaran mendapat firasat jika terus dibawa bakak membuat anak cucunya memikirkan dunia. Namun, dia pun ditegur sang guru yakni, Kiai Muhammad Besari. ‘’Payung dan lampit itu harus dicari, kalau tidak ketemu maka tidak boleh membabat tanah kamardikan tersebut,’’ ungkapnya.

Setelah itu, Kiai Ageng mencari payung dan lampit tersebut hingga ketemu pada malam Lailatul Qadar saat itu. Pun, dipercaya saat mendapatkan Lailatul Qadar maka mendapat pahala seperti beribadah selama seribu bulan. Tanah kamardikan tersbeut memiliki luas seribu wul. Hingga akhinrya, tanah itulah yang kini berjuluk Desa Sewulan. ’’Dan akhirnya, Kiai Ageng Basyariah membangun masjid sekaligus pesantren,’’ katanya.

Pun, masjid itulah yang hingga kini berdiri. Sementara ponpes itu masih ada. Namun, kini sudah menjadi madrasah. Untuk kegiatan pesantren sudah tidak ada. Abdul pun merasa kalau nilai sejarah itulah yang penting dan harus dijaga. Sehingga dia tak segan-segan bercerita panjang lebar mengenai sejarah Kiai Ageng Basyariah. ’’Dan sebutan Basyariah itu sebenarnya gelar yang diberikan oleh Pakubuwono II,’’ ungkapnya. (*/ota/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here