Dian Tri Susilo Geluti Tiga Bisnis Kreatif

416

’’JANGAN pernah puas dengan apa yang sudah membuat kita nyaman, tinggalkan zona nyaman buka bisnis lagi,’’ kata Dian Tri Susilo.

Setidaknya, hal inilah yang menjadi gambaran Dian menjalankan roda bisnisnya. Sampai saat ini sudah ada tiga jenis usaha yang dijalani. Sebagian di antaranya, bekerja sama dengan teman-temannya. Ketiga bisnis itu adalah Wood House Creative, Dblonx Leather dan MMC Office. ’’Yang join-an bareng teman itu Dblonx Leather dan MMC,’’ kata Dian yang juga ketua bidang ekonomi kreatif, Informasi Teknologi, pariwisata dan kesehatan HIPMI BPC Kota Madiun ini.

Bisnis pertama yang dia jalani adalah MMC office. Sebuah bisnis yang bergerak di bidang jasa internet service provider (ISP), web dan IT Consultant, Interior, tower 3 angle, camera circuit television (CCTV). Dan kini merambah ke biro perjalanan wisata. ’’Awalnya diajak teman kerja di bidang IT, semua  masih dikerjakan sendiri berdua dengan teman,’’  kata pemuda yang beralamat kantor di Jalan Kencana Yasa ini.

Butuh perjuangan merintis bisnis ISP di Kota Pahlawan. Pria 35 tahun ini membeberkan, perjuangan beratnya selama satu setengah tahun merintis MMC. Lazimnya bisnis ISP, dia rela turun tangan menjadi tenaga kasar saat memasang jaringan internet ke sejumlah rumah pelanggan. Saking seringnya berlama-lama di lapangan, kulitnya pun menghitam legam. ’’Benar-benar item,’’ selorohnya.

Bukan hanya itu, selama 1,5 tahun pula dia belum bisa mencicipi keuntungan dari bisnisnya. Uang yang dia dapat dari pelanggan ludes untuk kebutuhan teknis. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan perut, dia nyambi menjual produk online seperti jam tangan dan rokok elektrik di marketplace yang bertebaran di dunia  maya. ‘’Hasil jualan online ini cukup lah untuk makan. Saya menggambarkan kondisi saya waku itu ibaratnya cuman bisa makan di Selasa dan Kamis,’’ bebernya.

‘’Tapi proses inilah yang berkesan buat saya,’’ imbuh Dian.

Beruntung, saat dia mendapatkan satu rumah kos yang kebetulan dihuni mahasiswa IT sebuah kampus di Surabaya. Nah, dengan suka rela mereka menyediakan tiga kamar mereka untuk ladang bisnis Dian dkk. Imbal baliknya, para mahasiswa ini mendapatkan fasilitas jaringan internet gratis. ‘’Masih ingat, kami ramai-ramai tidur satu kamar,’’ paparnya.

Lambat laun, jasa ISP-nya itu mulai berkembang dan bisa menjaring banyak pelanggan di Surabaya. Singkat cerita, di tahun 2016, Dian memutuskan untuk pindah kantor dari Surabaya ke Madiun. Sengaja pulang kampung, lantaran banyak terman-teman yang bermukim di Kota Karismatik. ’’Jadi pelanggan di Surabaya tetap ke handle, cuman kantornya aja yang pindah,’’ paparnya.

Singkat cerita, ketika di Madiun muncul ide membuat beragam jenis produk kreatif berbahan dasar kayu jati belanda. Tak puas sampai disitu, di Madiun, Dian mengembangkan bisnisnya membuat aneka produk kreatif berhahan dasar kayu jati belanda. Bisnisnya ini dianamai, Wood House Creative. WH di kelola berdua bersama Fahrizal Ardiansyah yang kebetulan juga salah satu rekannya ketika merintis usaha di Surabaya.

Awalnya hanya sekadar pigura foto. Lambat laun, merambah ke furnitur dan interior. Mulai dari interior kafe dan kantor di Madiun sudah dijelajahinya. ’’Sekarang juga sedang menyelesaikan interior kafe di Plaza Lawu,’’ bebernya.

Kreativitasnya ini tidak terlepas dari kesenangan Dian dengan sesuatu yag berbau handmade. Ambil contoh, semasa kecil dia berinsiatif membuat kamar sendiri. Loteng rumahnya itu disulap jadi kamar pribadinya.  ’’Semua saya desain sendiri, saya gergaji sendiri dan kreasikan sendiri,’’ kenangnya.

Satu hal yang tak kalah penting adalah karyawan. Dia berusaha merangkul semua karyawan dengan asas kekeluargaan. Sehingga tidak ada sekat pembatas antara atasan dan bawahan. Cara ini terbukti efektif membuat karyawan nyaman. ’’Dan menumbuhkan rasa memiliki. Saya merintis tidak sendiri ada teman-teman dan saudara yang berjasa membesarkan bisnis ini,’’ ungkap Dian.

Belakangan, Dian mulai tertarik berbisnis kuliner membuat rumah teh. jelasnya. Dian punya pesan untuk mereka yang ingin terjun sebagai pebisnis. ’’Kalau kerja ikut orang, nggak  akan pernah merasakan rasanya bangkrut, gagal, jatuh bangun,’’ pungkasnya.  (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here