Dian Ria Avianti, Sosok di Balik ’’Dapur’’ PMI Ponorogo

87

Di tangan Dian Ria Avianti-lah darah segar diracik menjadi trombosit. Sel darah yang kini sangat dibutuhkan penderita demam berdarah dengue (DBD). Meski permintaan sedang tinggi, dia tetap memproduksi secara teliti.

………………..

AKTIVITAS di ruang laboratorium PMI Ponorogo akhir-akhir ini semakin sibuk. Tak kenal waktu, para petugasnya harus memenuhi permintaan trombosit yang semakin melejit. Seiring meledaknya pasien DBD sepanjang Januari kemarin. Siapa pun yang masuk harus mengenakan pakaian dan alas kaki khusus.

Di ruang steril itu, Dian Ria Avianti sedang memproduksi darah menjadi trombosit. Dengan mesin yang bekerja tanpa suara memisahkan darah menjadi tiga komponen. Yaitu sel darah merah, trombosit, dan plasma darah. Melalui mesin itu pula, tiga komponen darah terpisahkan di kantong masing-masing. ‘’Ada mesin penyimpanan khusus. Trombosit tidak bisa bertahan lama,’’ kata Dian.

Sepuluh tahun sudah Dian menjadi staf laboratorium PMI Ponorogo. DBD yang semakin mewabah seperti ini menuntutnya bekerja ekstra. Dalam sehari, dia harus memenuhi permintaan 30-an trombosit. Dia harus memperhatikan jeli dan mengecek kualitas darah yang akan diproduksi melalui beberapa prosedur ketat. Salah mengelompokkan golongan darah bisa berakibat parah. Dia pun harus melakukan uji keserasian antara trombosit yang diproduksi dengan permintaan pasien. ‘’Juga harus ditimbang agar balance,’’ ujar lulusan Jurusan Paramedis Transfusi Darah Poltekes Jogjakarta 2010 lalu itu.

Tahap awalnya, dia harus melakukan seleksi terhadap pendonor. Mulai mengukur tingkat HB 12,5-17, tensi darah 110-140, berat badan minimal 50 kg, golongan darah, hingga umur 17-60 tahun. Setelah dinyatakan lolos uji seleksi donor, darah mulai diambil. Dari 350 mililiter darah yang diambil, dicek untuk mengetahui bebas dari penyakit hepatitis B, hepatitis C, sipilis, dan HIV/AIDS. Setelah dinyatakan steril, darah dimasukkan ke dalam kantong triple. Lantas dimasukkan ke dalam mesin produksi. ‘’Gak boleh lebih dari lima jam darah segar harus diproduksi menjadi trombosit,’’ tutur perempuan kelahiran 1987 itu.

Kesibukan itu semakin berat saat stok trombosit tidak aman. Tak jarang, dia ikut jemput bola menjaring pendonor. Hal itu tidak membuat tanggung jawab utamanya kendur. Termasuk tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Membersihkan rumah, mengasuh anak, dan pekerjaan lainnya. ‘’Misi kemanusiaan jadi prioritas. Kalau urusan ibu rumah tangga itu sudah melekat,’’ ucap istri Danang Bayu itu. *** (nur wachid/fin/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here