MadiunSport

Di Balik Sukses Febro Armando Sugiono Raih Emas Porprov 2019

Kota Madiun pada Porprov Jatim 2019 berhasil mengoleksi tiga medali emas. Salah satunya disumbangkan Febro Armando Sugiono dari cabor gulat. Bagaimana perjuangannya sebelum akhirnya mampu berjaya di ajang itu?

———————

NILAM RIFIA SAVITRI, Madiun

DENGAN ekspresi serius, Febro Armando Sugiono menatap lawannya. Begitu aba-aba ’’action’’ keluar dari mulut wasit, kedua pegulat itu mengambil posisi tubuh agak membungkuk. Tidak lama berselang, keduanya bergumul saling memegang bagian leher dan bahu.

Dalam hitungan detik, Febro yang mengenakan wrestling suit (kostum gulat) hitam berhasil mengambil bagian kaki lawan, lalu membantingnya. Keduanya pun kembali bergumul. Namun, Febro yang memiliki power lebih baik akhirnya mampu menjinakkan lawannya. Senyum pun mengembang di bibirnya saat wasit mengangkat tangannya tanda memenangkan pertandingan.

Momen itu terekam saat Febro melakoni salah satu pertandingan cabang olahraga (cabor) gulat kelas bebas 125 kilogram Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jawa Timur pekan lalu. Di kelas tersebut, remaja 19 tahun itu berhasil memenangi seluruh pertandingan melawan empat pegulat lainnya hingga medali emas mengalung di lehernya. ‘’Pastinya senang bisa dapat emas,’’ kata Febro.

Bagi Febro, raihan medali emas menjadi catatan istimewa. Sebab, Porprov Jatim lalu merupakan ajang multievent pertama yang diikutinya. Capaian tersebut setimpal dengan usahanya selama ini. ”Empat bulan karantina di Malang, latihan dengan atlet-atlet puslatda (pemusatan latihan daerah, Red) yang akan mengikuti PON,” ungkapnya.

Febro memang sengaja dikirim oleh pengurus cabor gulat Kota Madiun ke Malang, berlatih dengan atlet-atlet gulat yang sudah memiliki jam terbang lebih banyak. ‘’Di sana latihan sehari dua kali, pagi dan sore,’’ ujar warga Jalan Salak Timur, Kota Madiun, ini.

Minggu pertama karantina, Febro bersemangat mengikuti latihan. Namun, setelah sekitar tiga pekan berada di sana, semangatnya agak menurun karena merasa latihannya kelewat berat. Namun, belakangan dia mampu mengembalikan spiritnya dan menjalani karantina hingga usai. ‘’Sempat berniat pulang waktu itu,’’ kenangnya sembari menyebut enam hari menjelang porprov kembali ke Kota Madiun dan berlatih bersama sembilan atlet gulat setempat.

Febro menekuni gulat sejak 2016 lalu. Berawal dari ajakan guru olahraga di sekolahnya yang saat itu juga berprofesi sebagai pelatih. Setelah ditempa selama satu setengah bulan, Febro langsung diikutkan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jatim di Jember.

Kala itu Febro diproyeksikan turun di kelas 100 kilogram. Namun, berat badannya mencapai 122 kilogram alias overweight. Alhasil, dia harus melakukan diet ketat untuk menurunkan bobot tubuhnya. ‘’Dalam waktu satu setengah bulan turun 21 kilogram, masih kurang sedikit lagi,’’ tuturnya.

Sehari sebelum bertanding, dia menjalani tes timbang badan. Beratnya kala itu masih 103 kilogram hingga diberi waktu 30 menit untuk mengurangi berat badannya. ‘’Saya lari-lari pakai jaket parasut, terus masuk ke dalam mobil yang sedang diparkir, panas seperti sauna,’’ ingatnya.

Tiga puluh menit berlalu, saat ditimbang beratnya hanya turun satu kilogram. Pupus sudah harapannya mengikuti pertandingan karena bobot tubuhnya belum mencapai angka ideal, 100 kilogram. ‘’Sedih lihat teman-teman bertanding. Rasanya juga kepengin, tapi gimana lagi,’’ ucapnya.

Setelah kejadian itu, Febro vakum dari dunia pergulatan. Tak disangka, pada akhir 2018 dia dipanggil untuk mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jawa Timur. Hasilnya juga di luar dugaan, Febro berhasil meraih medali emas. ‘’Cuma latihan dua bulan,’’ ujarnya.

Beberapa hari lalu Febro mendapat tawaran mengikuti kejurnas. Namun, sejauh ini dia belum mengambil keputusan lantaran dibebani menurunkan berat badannya menjadi 92 kilogram. ‘’Dilihat saja nanti,’’ katanya. ***(isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close