Di Balik Eksplorasi Situs Watu Wayang di Pelemgurih, Jenangan

61

PONOROGO – Situs Watu Wayang di Dusun Pelemgurih, Desa/Kecamatan Jenangan diproyeksikan menjadi destinasi budaya. Situs yang konon terhubung dengan situs Klampis Ireng di Sragi, Sukorejo itu tetap dipertahankan desa setempat.

——-

JIKA tak ada papan kayu pecil sebagai penanda, mungkin tak akan ada yang tahu di mana situs Watu Wayang berada. Batu besar itu teronggok di sisi selatan jalan setapak di dusun setempat. Papan kayu sebagai penanda situs itu baru dipasang beberapa bulan lalu. ‘’Dulu malah berada di tengah-tengah jalan setapak ini. Warga kemudian menggeser ke sebelah selatan karena jalannya dirabat,’’ ungkap Kades Jenangan Toni Ahmadi.

Meski teronggok di tepi jalan, Watu Wayang sebenarnya spesial. Batu besar dengan panjang 1,6 meter dan lebar 1 meter itu terpahat gambar Pandawa Lima. 2015 silam, warga desa setempat melaporkan temuan situs itu ke pemkab (kala itu disbudparpora). Pemkab lantas melanjutkan laporan ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto. ‘’Sudah dilihat BPCB. Sempat bilang katanya mau diambil (ke Mojokerto),’’ kenangnya.

Namun, lanjut Toni, warga menolak rencana BPCB. Warga khawatir, jika situs itu dibawa ke Mojokerto bisa mendatangkan malapetaka. Di samping warga memiliki ide untuk menjadikan situs itu destinasi wisata budaya. ‘’Tidak boleh (dipindah) karena warga khawatir terjadi hal yang tidak-tidak. Ini aset desa,’’ imbuh Toni.

Tak banyak yang Toni tahu dari Watu Wayang. Dari hasil penelitian BPCB, kata Toni, terungkap jika situs di desanya itu memiliki hubungan dengan Situs Klampis Ireng di Sragi, Sukorejo. Kedua situs sama-sama mengguratkan cerita pewayangan. Usia kedua situs juga diperkirakan tak jauh berbeda. ‘’Di pahatannya, tokoh Pandawa Lima ini seperti sedang mengadakan pertemuan. Tempat ini dipercaya warga jadi semacam tempat petilasan,’’ tuturnya.

Tak ada perlakuan khusus dari warga setempat terhadap situs tersebut. Diakui Toni, perlu upaya yang lebih serius jika pihak desa ingin memetik manfaat dari situs tersebut. Khususnya, sebagai pilihan destinasi wisata budaya dan religi. Pemerintah desa setempat berencana membuat lokasi situs itu lebih laik untuk dikunjungi. Penanda kecil dari kayu yang menggantung di tengah jalan itu disebut Toni sebagai langkah awal. Tahun ini, pihaknya berencana membangun cungkup atau atap di atas batu seberat hampir satu ton itu. ‘’Rencananya juga dipasangi keramik. Supaya kalau ada yang berkunjung bisa duduk-duduk. Harapannya memang bisa dikunjungi sebagai destinasi wisata,’’ sebut Toni.

Uniknya, kata Toni, temuan situs di desanya tidak hanya Watu Wayang. Terdapat dua situs lain yang juga diperkirakan cukup tua. Salah satunya di Dusun Simo. Di sana, terdapat batu panjang yang bentuknya menyerupai mumi. Namun, nasibnya sama seperti Watu Wayang. ‘’Warga cenderung membiarkan begitu saja. Selama ini juga tidak ada perlakuan khusus,’’ tukasnya. ***(mizan ahsani/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here