Dewan Desak Wabah Diare Diatasi

97

PACITAN – Wabah diare di Desa Pagerejo, Ngadirojo, belum sampai ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pacitan. Hingga kini belum ada laporan. Padahal Desa Pagerejo berbatasan dengan Desa Kluwih, lokasi salah satu pabrik pengolahan timah. Limbah pabrik tersebut masuk dugaan awal penyebab wabah diare. ‘’Kalau itu dari atas (Desa Kluwih, Red) mestinya sudah ada yang lapor kami,’’ kata Kasi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Pacitan Yoni Kristianto kemarin (21/2).

Yoni belum ingin berkomentar banyak. Dia memilih menunggu hasil penelitian dinas kesehatan (dinkes) setempat. Termasuk hasil uji epidemiologis yang rencananya bakal dilakukan untuk mendapatkan jawaban yang lebih akurat mengenai dugaan kontaminasi amoeba atau bakteri. Namun, bukan berarti pihaknya tutup mata. DLH bisa turun tangan jika muncul dugaan pencemaran akibat limbah.  ‘’Kecuali ada indikasi cemaran tambang, pabrik, dan sebagainya, kami bisa tampil,’’ ujarnya.

Seingat dia, sempat muncul laporan pencemaran limbah pabrik pengolahan limbah di Desa Pagerejo. Tanaman warga rusak diduga terdampak pencemaran limbah. Hanya, indikasi tersebut tidak terbukti. Hasil laboratorium menyebutkan air yang digunakan warga dalam kategori baik. Terlebih ahli tanaman menyebut kematian tanaman warga karena sebab lainnya. ‘’Jadi bukan karena cemaran,’’ tegasnya.

Terpisah, anggota Komisi II DPRD Pacitan Rudi handoko meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait proaktif. Selain dinkes, DLH pun diminta mengantisipasi dini dengan segera memeriksa sumber air dan berbagai benda lainnya yang berpotensi jadi biang keladi wabah diare. ‘’Selagi dinkes memeriksa penderita untuk mengetahui penyebab diare, DLH juga harus memeriksa lingkungan untuk menemukan penyebabnya melalui apa yang dicurigai,’’ desaknya.

Harapannya, penyebab wabah diare bisa segera diketahui. Sehingga, OPD terkait bisa segera ambil tindakan. Apakah perlu kerja bakti serentak, pembersihan sumber air, hingga permintaan penanganan limbah kepada pemilik pabrik jika terbukti. Rudi tidak ingin jumlah penderita terus bertambah. ‘’Jangan sampai berlama-lama. Khawatirnya penderita terus bertambah dan mengakibatkan pelayanan kesehatan juga kewalahan,’’ tuturnya. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here