Melepas Status Guru Sukwan karena Pesanan Melimpah

Redaksi 12 Januari 2017 12:29:28 PM views : 140 Features
img

Sempat menjadi pekerja borongan empat tahun. Lalu mengabdi di salah satu madrasah sebagai guru sukwan. Kini, laki-laki kelahiran Ponorogo 15 Maret 1988 ini sukses merintis usaha sendiri sebagai perajin topeng khusus Bujang Ganong.

LATIFUL HABIBI, Ponorogo

TUMPUKAN kayu dadap memenuhi teras belakang salah satu rumah sederhana di Seketeng, Cepet Selatan, Purwosari, Babadan, Ponorogo, sore kemarin (11/1). Potongan kayu yang sudah diukir tertata rapi di tempat penjemuran. Bilah besi pahat beradu dengan kayu terdengar merdu memecah keheningan suasana.

Suara itu berasal dari tangan seorang laki-laki yang sedang sibuk mengukir kayu. Basuki Rohman, lelaki itu tersenyum ramah membuka obrolannya dengan wartawan koran ini. Dialah perajin topeng Bujang Ganong asli Tempel, Turi, Jetis, Ponorogo. ‘’Maaf, tempatnya agak berantakan,’’ sambut lelaki 28 tahun itu.

Alumnus IKIP Budi Utomo Malang jurusan Pendidikan Olahraga ini lantas menceritakan ikhwal usaha membuat topeng ini. Bermula saat masih di bangku kuliah jarak jauh di Madiun. Dia sengaja mengambil kuliah sore hari agar bisa nyambi kerja. ‘’Saya kerja borongan di perajin topeng bujang ganong milik tetangga,’’ tutur suami Windi Hastuti ini.

Pekerjaannya itu ditekuni selama empat tahun untuk membiayai kuliahnya. Gelar sarjana strata satu pun diraihnya. Lantas dia mengabdi sebagai guru sukwan di salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) swasta dekat rumahnya. Basuki pun berhenti bekerja sebagai pembuat topeng karena ingin fokus untuk mengabdi.

Problem mulai muncul ketika dia menikah dua tahun setelah mengabdi. Kebutuhan ekonomi keluarga memaksanya memutar otak untuk mencari pekerjaan sampingan. ‘’Akhirnya saya mencoba kembali membuat topeng bujang ganong dan saya jual sendiri,’’ ujar bungsu dari tujuh bersaudara ini.

Ibarat sambil menyelam minum air. Saat bekerja borongan di perajin topeng, dia juga sambil belajar. Uji cobanya berbuah manis ketika para tengkulak menyukai hasil karyanya. Permintaan semakin naik dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya Basuki memutuskan berhenti mengajar. ‘’Semua saya kerjakan sendiri. Mulai cari bahan, pembuatan hingga penjualan,’’ ungkap calon bapak ini.

Bahan utama pembuatan topeng ini adalah kayu dadap dan rambut ekor sapi atau ekor kuda. Menyesuaikan jenis dan kelasnya. Kelas koden yang biasa digunakan untuk bermain anak-anak dari ekor sapi. Untuk semi halus, bahan campuran ekor sapi dan ekor kuda. Kelas ini biasa digunakan dalam pementasan reyog obyogan. Kelas paling halus hanya menggunakan ekor kuda. ‘’Topeng jenis ini digunakan dalam pertunjukan atau pagelaran seni reyog Ponorogo,’’ paparnya.

Paling banyak, Basuki membuat topeng kelas koden. Tapi dia juga menerima pesanan kelas lainnya. Meski baru berjalan satu tahun, Basuki menyebut tidak pernah sepi pesanan. Dalam sebulan, dia mampu memproduksi 150 topeng Bujang Ganong. ‘’Saya tidak melayani pembuatan topeng lain,’’ ungkapnya sambil menyebut menyukai reyog Ponorogo sejak kecil. *** (sat)

Tag :

Related Post