‘Makan’ 132 Nyawa

Redaksi 12 Januari 2017 12:13:47 PM views : 186 Peristiwa
img

NGAWI – Jalan di Ngawi semakin tidak ramah dengan pengguna jalan. Buktinya sepanjang 2016 ratusan nyawa pengendara terlepas, akibat kecelakaan lalu lintas. Polres Ngawi mencatat terjadi peningkatan signifikan perkara kecelakaan setahun terakhir. Hal itu dipicu dari kondisi jalan berlubang, human error dan menurunnya kesadaran disiplin berlalu lintas. ‘’Dari 737 perkara laka lantas, mengakibatkan 132 orang meninggal dunia, 2016 lalu,’’ terang Kasatlantas Polres Ngawi, AKP Miftahul Amin, kemarin

Amin-sapaan akrab AKP Miftahul Amin mengatakan perkara kecelakaan di Ngawi terus mengalami peningkatan signifikan. Tahun 2015 lalu tercatat 561 peristiwa, dengan 91 korban jiwa melayang sia-sia. Setahun kemudian angka kecelakaan naik 41 persen, dan korban meninggal meningkat 31 persen. Tidak hanya di jalur Nasional, tapi jalur kabupaten milik pemkab juga mengancam jiwa. ‘’Grafiknya memang terus naik,’’ katanya.

Perwira dengan tiga balok dipundak ini mengatakan dari data tersebut jalan nasional Ngawi menyumbang 69 korban meninggal di jalan dengan 340 perkara, hingga mengakibatkan kerugian material mencapai Rp 884,9 juta, belum termasuk kecelakaan yang terjadi di jalur kabupaten, maupun jalan kampung, selengkapnya lihat grafis. Kendaraan yang terlibat tidak hanya sepeda motor, mobil pribadi, dan pesepeda, tapi pejalan kakipun tidak aman beraktifitas di jalan nasional tersebut, selengkapnya lihat grafis. ‘’Ada 28 perkara kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki,’’ tegasnya.

Kata dia perkara laka lantas hampir merata di seluruh wilayah Ngawi. Namun jalur paling maut mulai mendekat di wilayah kota. Kilometer 5–6 Desa Tawun, dan kilometer 6-7 Desa Cangakan, Kecamatan Kasreman ditetapkan sebagai blackspotnya. Sebab, dilokasi tersebut paling sering terjadi kecelakaan lalu lintas dengan korban hilangnya nyawa. Hingga Dia tidak menampik jika jalur tengkorak tersebut menggeser blackspot sebelumnya yang ada di kilometer 9-10 Desa Soko, Kedunggalar dan Kilometer 11-12 desa Tempuran, Paron, masuk ruas Ngawi-Mantingan. ‘’Dari 33 kasus (laka-lantas di Tawun-Cangakan), enam orang diantaranya meninggal dunia,’’ tegasnya

Blackspot tersebut sudah melalui analisa dan evaluasi Januari hingga Desember 2016. Dia menyebutkan ada sekitar 56 titik jalur rawan laka di Ngawi. 21 titik tersebar jalur Ngawi-Caruban, 34 titik Ngawi-Mantingan ditambah satu jalur di ringroad Ngawi. Faktor manusia masih menjadi faktor pemicu utama. ‘’Indikatornya jumlah pelanggar lalu lintas terus bertambah,’’ katanya.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madiun, menurunnya kesadaran tertib berlalu lintas tercermin dari angka pelanggar yang dikoleksi polres Ngawi. 2014 lalu misalnya tercatat 13 ribu pelanggar, setahun kemudian berubah menjadi 20 ribu, dan 2016 kemarin melambung mencapai 23 ribu pelanggaran. ‘’Paling banyak pelangar marka dan rambu lalu lintas,’’ tegas Amin

Kapolres Ngawi AKBP Suryo Sudarmadi mengatakan, berbagai cara dilakukan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas maupun meningkatkan kesadaran pentingnya disiplin berlau lintas. Misalnya dengan melakukan sosialisasi dengan menggaet berbagai pihak eksternal. Termasuk pengunaan sosial media untuk menggugah kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas pengenda.‘’Kesadaran berlalu lintas warga masih banyak kurang, terutama masyarakat yang pinggiran,’’ imbuhnya.

Kata dia, peningkatan kesadaran warga dalam disiplin berlalu lintas diakui masih menjadi pekerjaan rumah (PR), lantaran hingga kini belum menemukan formulasinya. Sebab, sebagian masyarakat juga kurang perhatian terhadap pengendara di bawah umur. Fakta tersebut terungkap dari penindakan yang dilakukan selama ini. Dari beberapa faktor penyebab penindakan, tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) menempati porsi tertinggi. ‘’Tahun ini saja ada sekitar 10 ribu pelaku pelanggaran akibat tidak lengkapnya surat-surat kendaraan, termasuk SIM,’’ paparnya.

Dia mengatakan, proses pengajuan SIM pengendara jadi salah satu cara pihaknya untuk memantau kelayakan mengemudi. Sehingga, benar-benar dapat memahami rambu-rambu lalu lintas sekaligus menjadi pengendara yang baik di jalan. ‘’Itu juga jadi cara kami mensosialisasikan aturan,’’ pungkasnya.

Rp 9,1 Miliar Untuk Korban Kecelakaan

TINGGINYA angka kecelakaan lalu lintas di Ngawi, berbading lurus dengan besaran klaim asuransi yang di keluarkan PT Jasa Raharja. Sepanjang 2016 kemarin, perusahaan pelat merah mengucurkan duit Rp 9,1 miliar, atau naik dibandingkan 2015 yang ‘hanya’ Rp 7 miliar. ‘’Ada kenaikan sekitar 25 persen dibandingkan tahun lalu,’’ terang kepala unit PT Jasa Raharja Ngawi, Eko Prasetyo, kemarin .

Eko mengatakan kenaikan tersebut tidak lepas dari jumlah kejadian laka lantas 2016 yang meningkat drastis. Baik korban kecelakaan luka, ringan, luka berat maupun meninggal dunia mendapat santunan. Besarannya beragam, meninggal misalnya mendapatkan Rp 25 juta, cacat tetap misalnya mendapat santunan maksimal Rp 25 juta, perawatan maksimal Rp 10 juta dan penguburan diberi biaya penganti Rp 2 juta. Jika biaya yang diberikan lebih dari jumlah tersbeut maka ditangung BPJS. ‘’ Itu (penguburan) jika memang korban tidak memiliki ahli waris,’’ tegasnya.

Eko mengatakan besaran klaim asuransi yang diberikan mengacu Peraturan Menteri Keuangan 36 dan 37/PMK.010/2008 tertanggal 26 Februari 2008. Besarannya beragam. Berdasarkan kondisi akibat kecelakaan yang dialami. Eko mengatakan pemohon diminta melengkapi formulir, selain itu dokumen dan bukti klaim sah dan bukti klaim dinyatakan lengkap. Meski begitu pemberian santunan tersebut ada masa kadaluwarsanya. Jika permintaan diajukan dalam waktu lebih dari 6 bulan, setelah terjadinya kecelakaan. ‘’Dan tiga tidak dilakukan penagihan dalam waktu tiga bulan setelah pengajuan disetujui jasa raharja,’’ tegasnya.

Eko pun meminta agar pemohon klaim asuransi Jasara Harja aktif. Khususnya ahli waris baik suami, istri, anak ataupun kerabat. Pasalnya, beberapa kali pihaknya sempat dibuat tidak enak hati dengan pengurus klaim asuransi. Lantaran, tidak segera melakukan pengurusan pasca kejadian kecelakaan. Kondisi tersebut membuat klaim asuransi gugur. ‘’ Dan pencairan dilakukan tiga bulan setelah pengajuan disetujui. Lebih dari itu bisa dianggap kadaluwarsa, ‘’ imbuhnya.

Dia menambahkan jika pengurusan klaim mudah. Masing-masing pemohon cukup mendatangi kantor PT Jasa Raharja. Sesampainya di kantor mengisi formulir pengajuan. Selain mengisi formulir, pemohon wajib meyertai surat keterangan dokter terkait kondisi korban kecelakaan. Termasuk identitas dan kuitansi pembayaran. ‘’ Setelah disetujui, bisa segara dilakukan pencairan, ‘’ pungkasnya (ian/odi/pra)

Tag :

Related Post