Sekali Hot Tetap Hot

Redaksi 12 Januari 2017 11:56:41 AM views : 165 Ekbis
img

MADIUN – Tidak hanya rasa, harga cabai rawit pun masih berasa hot. Jika pekan lalu tembus Rp 100 ribu per kilogram, kemarin (11/1) masih nangkring dikisaran Rp 95 ribu. Harga tersebut masih meroket jika dibandingkan tahun lalu. Sepanjang Januari hingga November 2016, harganya maksimal mentok dikisaran Rp 50 ribu per kilogram. ‘’Tahun lalu naik turun harganya, tapi tidak lebih sampai Rp 50 ribu. Mulai Desember hingga Januari ini yang tinggi,’’ ujar Gaguk Hariyono, Kepala Disperindagkoppar.

Gaguk menambahkan,naik turunnya harga cabai itu dipicu beberapa faktor, misalnya dari pasokan. Jika distribusi lancar dan persediaan cukup, maka harga cabai rawit otomatis turun. ‘’Namun, jika kiriman dan stok cabai rawit sedikit, harga pun ikut naik,’’ jelasnya.

Kendala cuaca juga menjadi faktor selanjutnya. Musim hujanmembuat petani cabai gagal panen sehingga menjadi busuk. Karena itu, petani tidak dapat memberi pasokan cabai rawit dengan jumlah besar ke pedagang. ‘’Mayoritas dapat pasokan dari Pare, Kediri. Tapi kalau stok kosong, pedagang akan kontak ke pemasok di kota lain,’’ terangnya.

Selain karena faktor cuaca, harga bahan bakar minyak (BBM) pun mampu mempengaruhi harga cabai rawit. Namunmenurut Gaguk, harga BBM tidak terlalu berpengaruh besar. Dia pun tidak dapat memastikan berapa besar pengaruhnya. Pihak Disperindag tidak dapat mengontrol harga cabai rawit di pasaran. Pasalnya, hal itu murni dari mekanisme pasar. ‘’Semua tergantung pasokan dan kebutuhan,’’ jelasnya.

Gaguk menuturkan, harga cabai rawit yang terus naik tidak hanya terjadi di Kota Madiun. Ini sudah menjadi permasalahan lingkup nasional. Kota-kota lain pun mengalami hal yang sama. Pemerintah menghimbau untuk menanam cabai jika memiliki lahan sendiri.

Meski begitu, Gaguk tetap terus memantau dan melakukan survei ke pasar untuk mengetahui harga kebutuhan pokok. Selain itu, tampilan harga di monitor yang ada di depan Pasar Besar Madiun pun selalu diperbarui tiap hari. Pemantauan itu diperlukan oleh masyarakat. ‘’ Setiap hari diupayakan untuk memperbarui datanya,’’ tambahnya.

Meski harga naik, kebutuhan akan cabai rawit tak menjadi surut. Pasalnya, di Madiun sendiri banyak produk yang senantiasa memerlukan cabai rawit. Karena itu, kebutuhan akan cabai di kota lebih tinggi dibandingkan daerah sekitar. ‘’Kebutuhan di sini lebih banyakkarena untuk sambel pecel,’’ ujarnya.

Selain cabai rawit, harga daging ayam dan telur pun sempat naik di akhir tahun. Namun, menurut Gaguk itu hal yang biasa. Apalagi diikuti oleh momen Natal dan tahun baru. Dia menjelaskan, masih ada fluktuasi naik turunnya harga cabai rawit di bulan ini.

Berdasar pantauan Jawa Pos Radar Madiun, sejumlah pedagang di Pasar Besar Madiun dan Pasar Sleko masih menjual cabai rawit dengan harga Rp 95 per kilogram. Sepekan sebelumnya justru di kisaran harga Rp 100 ribu. Namun, yang mengherankan justru situs resmi Siskaperbapo (Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok) milik Pemprov Jatim yang justru tidak update. Sebab, harga cabai rawit per 6 Januari harganya Rp 70 ribu. (mg7/ota)

Tag :

Related Post