18 Desa Bebas Kekeringan

Redaksi 11 Januari 2017 13:18:59 PM views : 122 Peristiwa
img

NGAWI- Kekeringan yang sempat melanda 48 Desa, membuat pemkab Ngawi memeras otak. Upaya sistematis dengan penghijauan dan penyediaan ruang terbuka hijau terus digeber sejak empat tahun terakhir. 348.683 batang pohon sudah tertanam seantero Ngawi. Hasilnya jumlah desa tandus di bumi orek-orek mulai terkikis. ‘’Hasil pantauan kami dan pemprov Jatim, tahun ini tersisa 30 daerah kekeringan yang tersebar di delapan kecamatan,’’ terang kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi, Eko Heru Tjahjono kemarin.

Heru-sapaan akrabnya mengatakan berdasarkan data dikantornya 48 desa masuk zona merah kekeringan itu tersebar di sembilan kecamatan. Gencarnya reboisasi dengan tagline Ngawi Ijo Royo-Royo itu mampu mengikis satu kecamatan terbebas dari ancaman kekeringan, dan jumlah desa dimasing-masing delapan kecamatan tersisa satu persatu sudah mulai terbebas dari krisis air itu. Pitu dan Bringin kata dia menjadi tantangan terberatnya. ‘’ Karena daerah resapan air semakin banyak, meskipun tidak dapat dilakukan secara instan,tapi sudah ada hasilnya,’’ katanya.

Kata dia, reboisasi secara berkelanjutan meningkatkan daerah resapan air. Sehingga, menjaga kadar air lahan-lahan tertentu terjaga. 18 desa sudah mampu terbebas dari krisis air bersih sekaligus kekeringan.Tanaman tersebut kata dia mampu meningkatkan tanah dalam menyerap air hujan serta mengurangi aliran permukaan dan penguapan. ‘’Makanya air tetap bertahan di lahan-lahan yang memiliki banyak tanaman,’’ tambahnya.

Kata dia banyaknya bencana yang disebabkan hidrologi, mulai banjir, tanah longsor angin puting beliung membuat pemkab mencari solusi sistematis untuk menangkalnya. Cara dilakukan mulai merubah pola pikir terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar. ‘’ Kalau manusia baik dengan alam, alam juga bersahabat dengan manusia,’’ katanya

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ngawi Setiyono, mengatakan penghijauan di Ngawi sudah tidak dapat dibendung. Tahun ini pihaknya menyiapkan 300 ribu bibit pohon, yang penanamannya bakal melibatkan pelajar se-Ngawi. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran sekaligus pentingnya menjaga lingkungan sejak dini. Sebab, dia masih menyakini pemberian keteladaanan lebih efektif dibandingkan hanya memberikan pemaparan program.

‘Kami masih punya pekerjaan rumah (PR) untuk memenuhi target ruang terbuka hijau (RTH) di Ngawi, tinggal 4 persenan, dari total luas kabupaten Ngawi,’’ kata Setiyono

Setiyono mengatakan target penyediaan lahan RTH itu lantaran muncul perubahan regulasi. Yakni, Permendagri 1/2007 tentang Penataan RTH Kawasan yang memuat lahan pertanian masuk kategori RTH. Namun, turun Peraturan Menteri Pekerjaan Umum 17/PRT/M/2009 tentang Penyusunan Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) yang mengatur lahan sawah bukan termasuk RTH. Hingga mengerus lahan RTH milik pemkab. ‘’Kami akan kejar terus realisasi itu,’’ tegasnya, sambil menyebut RTH Taman Candi, Alun-Alun Merdeka Ngawi, dan RTH Taman Labirin.

Setiyono mengatakan kesadaran elemen masyarakat menjaga lingkungan, setelah banyak lembaga mengajukan bantuan pohon asuh ke dinasnya. Saat ini pengajuan tersbeut di inventarisir. Rencannaya awal musim penghujan tahun ini akan dilakukan tanam masal. ‘’Lebih baik menanam satu pohon di musim penghujan, daripada 1.000 pohon di musim kemarau,’’ bebernya.

Pohon asuh, kata dia untuk meminimalisir risiko bencana banjir, tanah longsor yang disebabkan minimnya serapan. Dengan diperbanyaknya tanaman di wilayah Ngawi dapat membantu proses penyerapan air tanah. sehingga meminimalisir risiko kebanjiran. ‘’Itu upaya yang bisa dilakukan sebagai mitigasi iklim, apalagi perubahan cuaca sekarang mulai dirasakan,’’ paparnya. (ian/pra)

Tag :

Related Post