Destinasi Wisata Anyar Sulit Geser Dominasi Pantai Klayar

146

PACITAN – Objek wisata alam baru bermunculan di Pacitan. Sayang, keberadaannya kurang menarik wisatawan untuk berkunjung. Pasalnya, Pemkab Pacitan saat ini cenderung masih Pantai Klayar sentris. Pantai di Kecamatan Donorojo itu mampu menjadi tulang punggung untuk mendulang pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Meski kunjungan wisatawan ke Pacitan 2018 lalu mulai membaik, namun wisata alam baru diprediksi belum mampu menggebrak dominasi Pantai Klayar. ‘’Teoritisnya kalau kita mengandalkan wisata alam, lambat laun akan hilang (pengunjungnya, Red),’’ kata Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Pacitan Budi Hartoko kemarin (6/1).

Dia berkaca dari daerah wisata lain, seperti Jogjakarta dan Bali, yang notabene motor penggerak wisata di Indonesia. Kedua daerah tersebut mengandalkan wisata budaya untuk mendongkrak wisata alam. Sedangkan wisata alam jadi bonus bagi wisatawan. Menurut dia, saat ini wisatawan mulai meminati eksplorasi budaya daerah yang dikunjungi. ‘’Kami sudah berupaya dengan dinas pendidikan, menjadikan budaya Pacitan untuk menyedot atau minimal sebagai propaganda wisatawan untuk datang,’’ ujarnya.

Beberapa saat lalu digelar berbagai event budaya, seperti rontek dan kethek ogleng. Namun, tak mampu menarik wisatawan. Hartoko berharap, ke depan festival budaya dikemas sedemikian rupa sehingga mampu menggaet wisatawan. Apalagi jika dijadikan agenda tahunan. ‘’Saat ini, kebudayaan ditangani dinas pendidikan, jadi kami perlu koordinasi untuk membuat gebrakan wisata budaya,’’ paparnya.

Sementara itu, dalam dua tahun terakhir, Hartoko menyebut  kunjungan wisatawan di Pacitan sulit menembus angka dua juta. Tahun 2018 misalnya, disparpora mencatat kunjungan wisatawan mencapai 1,6 juta. Jumlah tersebut turun dari tahun 2017 yang mencapai 1,7 juta wisatawan. ‘’Hal tersebut tak lepas dari dampak bencana 2017 lalu,’’ beber Hartoko.

Dia menambahkan, investasi dan pengembangan wisata alam wajib terus dilakukan. Tak hanya menyajikan tempat wisata yang asri. Kolaborasi wisata alam modern dan eksklusif juga layak diterapkan. Terlebih destinasi yang dikelola perseorangan atau desa. Pasalnya, beberapa turis menginginkan wisata alam yang eksklusif. ‘’Pantai Taman misalnya, bisa ditambah kolam renang agar wisatawan punya opsi,’’ pungkasnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here