Desain Penataan PKL Alun-Alun Reksogati Caruban Direvisi

195

MEJAYAN – Desain penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Alun-Alun Reksogati Caruban direvisi. Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun mengubah fungsi pintu masuk menuju Pendapa Ronggo Djoemono. Perubahan menindaklanjuti saran dinas perhubungan (dishub) terkait tata kelola parkir. ‘’Berubah sedikit tapi tidak terlalu substansial,’’ kata Kabid Perdagangan Disperdakop-UM Kabupaten Madiun Agus Suyudi kemarin (21/1).

Agus menjelaskan perubahan itu untuk mengantisipasi tamu pemkab. Yakni, dengan membuka pintu timur dari dua pintu akses masuk pendapa. Sebelumnya, kedua pintu itu direncanakan tutup total. Sebagai parkir kendaraan pengunjung karena sisi utara alun-alun digunakan tempat berjualan PKL. Imbas perubahan, lokasi parkir digeser ke barat atau sejauh sekitar 10 meter. Batas persisnya tidak menutupi plakat di pagar pendapa. ‘’Bupati dan tamu keluar masuk pendapa lewat pintu sebelah timur itu yang tembus ke selatan,’’ terangnya.

Agus mengatakan, puluhan pedagang sudah menggelar lapaknya di sepanjang alun-alun sisi barat hingga utara. Uji coba selama dua hari, Sabtu (19/1) dan Minggu (20/1), diklaim berjalan baik. Tidak ada pedagang yang meninggalkan peralatan baik tenda maupun gerobak. Langkah itu ditindaklanjuti pengosongan kompleks selatan Masjid Quba dari tenda dan gerobak PKL. Sebab, lokasinya dimanfaatkan parkir kendaraan. ‘’Hari ini (kemarin, Red) sudah bersih,’’ ujarnya.

Kompleks yang berseberangan dengan Padepokan Pencak Silat itu sudah steril per pukul 10.00. Beberapa pedagang membersihkan halaman. Tidak ada tenda yang ditinggal atau pedagang berjualan seperti hari-hari sebelumnya. Agus tidak tahu tempat menyimpan properti para pedagang itu. Menurutnya semua dibawa pulang pemilik atau dititipkan ke rumah pedagang lain. Paguyuban Sembilan Muda tidak menitipkan tenda atau gerobak. ‘’Berarti semua sudah diambil, termasuk pedagang yang biasa meninggalkan tenda di sana,’’ bebernya.

Agus tidak memungkiri masih da pro-kontra sampai pihaknya menggelar pertemuan dengan paguyuban Sabtu lalu. Kalangan kontra kebijakan keberatan dengan konsep bongkar pasang. Namun, mereka tidak merespons berlebihan. Buktinya, selama dua hari uji coba, tidak ada tenda atau gerobak yang ditinggal. Di sisi lain, mayoritas pedagang kontra itu berjualan hanya setiap akhir pekan. Sehingga, beban yang dipikul tidak seberat pedagang yang berjualan setiap hari. Yakni, di rentang 80–90 dari total 101 pedagang. ‘’Setelah ini satpol PP yang akan mengawasi ketat setiap pagi,’’ sebutnya.

Menurut dia, kebijakan mengubah lokasi berjualan kali ini disentralisasi jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain lebih prospektif, pihaknya memberi fasilitasi berjualan dalam kondisi tertentu. Salah satunya memperbolehkan berjualan hingga pukul 09.00 setiap Minggu. Memanfaatkan banyaknya warga yang bermain di alun-alun. Tidak dipermasalahkan karena momennya hari libur perkantoran. Selain itu, memprioritaskan masuk ke kawasan alun-alun sejak pagi kala ada kegiatan besar. ‘’Tujuannya mengakomodasi PKL dari luar untuk ikut berjualan di sekeliling alun-alun,’’ tuturnya. (cor/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here