Desain Jembatan Bajulan Sudah Jadul

103

MADIUN – Jalan Patimura, Ngampel, Mejayan menjadi jalan buntu cukup lama. Pemkab Madiun belum bisa memperbaiki Jembatan Bajulan, Saradan yang ambles di ruas tersebut dalam waktu dekat. Solusi penanganan mengarah membuka kembali jalur alternatif Madiun-Ngawi yang kini ditutup total itu juga belum bisa dipastikan. ’’Bentuknya seperti apa masih menunggu petunjuk pimpinan,’’ kata Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Madiun Heru Sulaksono, Kamis (18/4).

Heru bersama perwakilan Bakorwil I Madiun meninjau kerusakan jembatan kemarin pagi. Mereka memantau kondisi terkini infrastruktur penghubung yang permukaan sisi utaranya berlubang, Selasa lalu (17/4). Lubang berukuran 3×5 meter itu didapati semakin dalam bila sebelumnya hanya terlihat seperti cekungan. Diamati dari bawah jembatan sisi barat, fondasi yang keropos pada titik berlubang itu mencapai tiga meter.

Heru menyatakan, solusi konkret perbaikan jembatan yang dibangun periode 1980-an akhir itu perlu dibicarakan dengan banyak pihak. Mengingat pemicu utama kerusakan akibat bencana banjir dahsyat awal Maret lalu. Selain mengkaji masih layak tidaknya jembatan yang menjadi akses lintas Kecamatan Mejayan, Saradan, dan Pilangkenceng bisa dilewati kendaraan. Koordinasi juga berkaitan dengan kebutuhan anggaran seandainya keputusan penanganannya adalah harus perbaikan total. ’’Perlu kajian teknis,’’ ujarnya kepada Radar Caruban.

Menurut dia, konstruksi jembatan sepanjang 50 meter dengan lebar tujuh meter itu secara kasat mata masih aman. Problem hanya ada pada upper fondasi yang berlubang akibat tergerus air sungai. Tanda kerusakan serupa tidak ditemukan pada fondasi jembatan sisi selatan. Sehingga dimungkinkan perbaikan hanya berfokus pada titik yang rusak. Persoalannya, desain konstruksi infrastruktur bernama lain Jembatan Pattimura ini cukup lawas yang ditandai banyak pilar penyangga di bagian bawah tengah. ’’Kalau memungkinkan, pilar-pilar itu dilakukan penggantian,’’ ucapnya.

Banyak patahan rerumpunan bambu kering yang terseret arus Kali Jerohan tersangkut pilar tersebut. Aliran air pun menjadi tidak lancar. Sejatinya, setelah banjir awal bulan lalu, DPUPR bersama warga setempat telah melakukan pembersihan. Namun, sampah alami itu datang kembali hingga membuat aliran menjadi tersumbat. ‘’Saat ini solusi yang bisa dilakukan pembersihan dengan buldozer agar aliran air tidak terus-menerus di sisi utara,’’ ungkap Heru.

Menurut dia, aliran Kali Jerohan selalu berpusat di sisi utara. Sebab elevasi dasar sungai lebih dalam ketimbang utara. Permasalahan itu terjadi gerusan terus menerus terjadi di lokasi yang sama. ‘’Pengalihan ke selatan untuk mengurangi dampak gerusan fondasi,’’ pungkasnya. (cor/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here