Desa Binade Bisa Jadi Destinasi yang Oke

44

Ponorogo ternyata kaya akan destinasi wisata alamnya. Kalau selama ini, para goweser hanya kenal Ngebel, cobalah tengok Ngrayun. Tantangannya lebih menggoda. Kalau pakai MTB (Mountain Bike) dijamin bisa manjat. Kalau pakai road bike, tantangannya lebih istimewa. Buktikan saja!

———————-

PUJIONO. Namanya cukup singkat. Tapi nama bekennya Pujiono Donat. Pria berusia 40-an tahun ini sangat familiar di lingkungan Pasar Gemaharjo, Pacitan. Terutama di telinga pedagang jajanan pasar yang berada di perbatasan Ponorogo-Pacitan ini. Sebab, dialah satu-satunya pemasok donat dan othok-othok di setiap lapak jajan pasar tersebut. Meski dia asli Desa Binade, Ngrayun, Ponorogo, tapi aktivitas bisnisnya di pasar yang secara kewilayahan masuk Pacitan.

Pasar Gemaharjo setiap hari lumayan ramai. Pasar ini secara geografis, posisinya agak istimewa. Selain berada di perbatasan, pasar ini menjadi jujugan masyarakat dari tiga kecamatan. Yakni masyarakat kecamatan Tegalombo, Pacitan, Kecamatan Slahung dan Ngrayun, Ponorogo. Meski secara administrasi kewilayahan berbeda, nyatanya kalau sudah berada di pasar, mereka cair. Tidak bertanya dulu asal mereka darimana. Istilahnya, mereka tidak kepo. Buat mereka, yang utama adalah bertransaksi dan berinteraksi secara ekonomi. Time is money. Bukan time is ngrumpi. ’’Buat kami, waktu adalah uang. Jangan sampai kuwali dapur ngguling (tumpah, Red),’’ kata Pujiono yang siang itu menunggu kedatangan saya di depan Puskesmas Gemaharjo.

Sekadar info saja, kami saling kenal, karena berhobi sama. Bersepeda. Setelah babibu beberapa saat, dia lantas mengajak lets go ke rumahnya di Desa Binade. Kebetulannya lagi, Pujiono juga sudah mempercepat waktu memasok dagangannya. Sebab dia tahu akan kerawuhan tamu. Saya ber-Saturday Ride Fever tidak sendiri. Tapi ditemani tiga cyclist lainnya. Yakni Sugiono, Hari Nanung, dan Suwadi Haliman. ‘’Sudah sejam saya menunggu di depan puskesmas. Saya pikir tidak jadi. Ternyata njenengan nongol juga.  Tidak jauh kok dari Gemaharjo. Cuma 7 kilometer sampai rumah saya,’’ kata Pujiono sambil meletakkan bronjong ke atas sadel sepeda motornya.

Terus terang, kalau ada kesempatan longgar, cyclist dari Madiun memang sangat menyukai Gemaharjo sebagai lokasi finishnya. Istilah paketnya, beli satu dapat dua. Artinya, endurance dapet, tanjakan pun dapet. Jika bersepeda dari Madiun, jarak sampai pasar Gemaharjo sekitar 60-an kilometer. Tapi bonus tanjakannya yang lumayan yahud. Meski hanya 10 kilometer — mulai pasar Slahung sampai pasar Gemaharjo—elevasi (ketinggian, Red)-nya bisa mencapai 1.200 mdpl. ‘’Lumayan ngos-ngosan, Madiun-Gemaharjo,’’ kata Suwadi Haliman alias Dalbo, cyclist IPSM (Ikatan Pembalap Sepeda Madiun).

Sambil memperingatkan kalau jalan samping Puskesmas Gemaharjo menanjak, Pujiono langsung tancap gas dengan motornya. Dengungan motor dua taknya, membuat asap dari knalpotnya membubung di depan kami. Lumayan buat ambon-ambon (wewangian, Red). ‘’Wuihhh, oline racing. Enak wangi ambune,’’ kata Nanung, cyclist tertua yang sangat piawai kalau di tanjakan.

Lain Nanung, lain pula dengan Sugiono. Cyclist – yang sehari-harinya menjadi staf EO Radar Madiun – ini menilai jalan tanjakan samping puskesmas Gemaharjo seperti welcome drink. Menurutnya, awalnya saja sudah seperti naik punuk onta, tentu ke dalamnya akan lebih luar biasa tanjakannya. Ternyata apa yang dikhawatirkan Sugiono sudah tergambar di depan mata. Baru masuk 3 kilometer, persisnya di Dusun Gayam Kidul, Gemaharjo, tanjakan plus gronjalan harus didaki. Tapi apa yang terjadi? Akibat telat ngoper gigi sprocket, dengkul Sugiono macet. Agar tidak jatuh dari sepeda, dia memilih nuntun. Selepas tanjakan, sepedanya dikayuh lagi. Meski jalan berlobang dan menganga semakin banyak saja.

Selepas dari Gayam Kidul, sekilo kemudian kami masuk ke Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Ponorogo. Harapannya Cuma satu. Rombongan —  yang sudah kenyang tanjakan ini – bertemu jalan flat. Meski seratus atau duaratus meter lah. Ternyata harapan tinggal harapan. Tanjakan lebih edan, kembali terpapar di depan. Ini seperti pepatah, keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya. Wakakakakakkk…

Saya lihat dari kejauhan, Suwadi Haliman yang kali pertama mampu lolos dari tanjakan bergradien 20 persenan. Berikutnya Hari Nanung. Kurang 50 meteran dari puncak tanjakan, kayuhan Nanung mulai sempoyongan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki dia mencoba mengayuh dengan gaya interval. Meski gliyak-gliyak Nanung bisa lolos. Nah, berikutnya giliran saya. Melihat tanjakan — yang tidak mungkin saya daki — dengan kayuhan jalan lurus, akhirnya saya putuskan dengan mendaki zig-zag. Lha ndilalah dari arah berlawanan muncul sepeda motor. Saya sadar kalau saya melanggar. Akhirnya dengan sisa tenaga, saya posisikan sepeda di pinggir kanan. Dan alhamdulillah, saya bisa melewati tanjakan “mematikan” itu dengan ngos-ngosan. Coba kalau tidak? Ternyata Suwadi Haliman – yang duluan sukses menanjak – siap mengabadikan lewat kamera ponselnya kalau saya atau Nanung melakukan aksi nuntun berjamaah. ‘’Badalahhhh….. aku bisa lewat, pak Dalbo,’’ teriak saya saat lewat di depannya.

Begitu keluar dari batas desa Tugurejo, kami berempat sampai di mulut Desa Binade, Ngrayun, Ponorogo. Luar biasa slogan desa ini: Selamat Datang di Kampung Damai Desa Binade. Di mulut desa inilah, kami berswafoto. Hawa mulai sejuk di desa yang masih ditumbuhi hutan pinus ini. Meski jarum jam sudah menujuk pukul 13.00, panasnya mentari tidak terlalu menyengat. Maklum, pohon pinusnya masih lebat. Yang agak membuat kami waswas, justru jalan menuju desa Binade. Mayoritas berlubang dalam dan terkelupas aspalnya. Kami yang menggunakan road bike (sepeda balap, Red) memang harus ekstra hati-hati agar selamat. Selamat agar tidak jatuh dan selamat agar ban sepeda tidak kempes.

Selama perjalanan menuju rumah Pujiono di dusun Blumbang, Binade, saya hanya bisa ngudarasa dalam hati sendiri. Wajar saja kalau jalan raya Binade sepanjang 7 kilometer ini belum juga tersentuh perbaikan. Sebab, meski pendek, jalan itu milik dua kabupaten, Pacitan dan Ponorogo. Tentu ruang koordinasi bisa jadi sulit diintegrasikan. Satu kabupaten ada dananya, ndilalah kabupaten satunya belum ada anggaran. Atau malah-malah, kedua kabupaten belum ada anggarannya. Kalau ini yang terjadi, tentu roda ekonomi masyarakat 3 kecamatan akan nggronjal-nggronjal seperti rasa jalannya. (*/Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here