Ngawi

Dengan Boneka Uma, Aria Menyemangati Anak-Anak Korban Bencana

NGAWI – Sebagai seorang relawan, Aria Kusuma Aji kelewat lekat dengan bencana sekalian korbannya. Kendati bergerak dalam pertolongan medis, pemuda itu kerap melakukan pendekatan psikososial. Mendongeng bermediakan boneka untuk korban anak-anak.

Sore itu Aria Kusuma Aji tampak sibuk dengan laptop di hadapannya. Telunjuk kanannya menggeser-geser papan kursor. Sesekali jemarinya menari-nari di atas tombol-tombol berhuruf. Sejurus kemudian, dia tersenyum, lantas bertopang dagu. Sembari senyum-senyum sendiri, pandangannya tak lepas dari layar. ‘’Ini anak-anak di Lombok,’’ kata Aria menunjukkan sebuah foto.

Tak hanya dia yang semringah dengan sekotak stroberi di tangan, wajah anak-anak itu juga tak kalah ceria. Seorang di antaranya terlihat membawa sebuah boneka. ‘’Boneka Uma namanya, singkatan dari unik dan menarik,’’ jelas warga Dusun Dero Lor, Desa Dero, Kecamatan Bringin, ini.

Foto sarat nuansa bahagia tersebut diambil beberapa bulan pasca gempa Lombok. Aria kala itu sengaja kembali ke sana setelah menjadi relawan ketika bencana terjadi. Dia tidak mampu membendung rindu lantaran sering menerima video call dari anak-anak korban bencana tersebut. Kedekatan itu muncul lantaran Aria sering mendongengi mereka. ‘’Sudah seperti keluarga sendiri rasanya,’’ ujarnya.

Aria sejatinya termasuk relawan medis. Namun, lantas muncul ide bagaimana caranya supaya korban anak-anak di tanah bencana tidak larut dengan musibah yang dialami. Sebuah boneka pemberian salah seorang teman akhirnya dia pakai sebagai media mendongeng agar mereka terhibur. ‘’Saya merasa kasihan waktu itu. Banyak yang fokus soal bantuan dan proses evakuasi, sementara anak-anak tidak ada kegiatan sama sekali,’’ papar pemuda 24 tahun ini.

Memakai tokoh-tokoh binatang, dia merangkai alur cerita dengan menyiratkan pesan semangat di dalamnya. Aria begitu lantaran khawatir anak-anak depresi. Dengan mendongeng sembari melakukan pendekatan psikososial, keakraban dengan mereka terbangun. ‘’Misalnya cerita bebek yang tidak bisa terbang. Lewat cerita tersebut, saya mencoba menyemangati anak-anak agar tetap bersemangat dan bersyukur meski dalam kondisi bencana. Saya kasih gambaran kalau bebek bisa berenang dan menyelam ke dalam air,’’ tuturnya.

Keseharian di pengungsian memberi pengalaman tersendiri bagi alumnus Stikes ICME Jombang ini. Setelah beberapa pekan di berkutat dengan boneka, dongeng, dan korban anak-anak, dia nekat kembali ke Lombok beberapa bulan kemudian. ‘’Sekotak stroberi itu hadiah dari anak-anak di Lombok. Senang sekali rasanya,’’ ungkapnya.

Berbagai lokasi bencana sudah Aria datangi sebagai seorang relawan. Bencana di lombok menjadi spesial lantaran kali pertama mendongeng dengan boneka Uma. Kendati begitu, jiwa kemanusiaannya sudah dimulai sejak terjadi erupsi Gunung Kelud pada 2014. ‘’Rasa takut tetap ada saat menuju lokasi bencana. Tapi, kalau tidak berangkat akan lebih menjadi beban bagi saya,’’ tuturnya.

Aria semakin dikenal di berbagai daerah bencana dengan boneka Uma-nya. Saat Palu porak-poranda beberapa waktu lalu, misalnya. Selain memberikan pertolongan medis), dia tidak ketinggalan memainkan Uma. Di tenda-tenda pengungsian, Aria mendongengkan berbagai cerita kepada anak-anak. ‘’Di Lere, Palu Barat, yang saat bencana ada acara Palu Namoni saya mendongeng di tengah bau korban-korban yang belum ditemukan,’’ kenangnya.

Berbagai cerita dituturkan Aria kepada anak-anak. Namun, tidak sedikit cerita dari korban yang membuatnya bergidik. Kengerian bencana menyimpan beribu-ribu nestapa. Salah satunya, saat Aria berkesempatan menolong seorang bocah dengan kaki lumpuh yang berhasil menyelamatkan diri. ‘’Di Palu itu. Dari situ, saya semakin terpanggil kalau untuk terjun lapangan saat terjadi bencana,’’ ujarnya.

Aria sudah menjelajah berbagai lokasi bencana. Kendati begitu, rasa takut tetap merambati benaknya. Pun, semakin menjadi-jadi setelah salah seorang rekan relawan meninggal karena kecelakaan akibat kelelahan. ‘’Orang tua sempat melarang juga. Saya beri penjelasan dan akhirnya dapat izin. Syaratnya harus tetap memberi kabar saat berada di tempat bencana,’’ ungkapnya. ***(isd)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close