Demi Kejar Response Time Kebakaran, Satpol PP Magetan Beli Satu Unit Mobil Damkar Baru

24
UZUR: Dua unit mobil damkar milik satpol PP dan damkar sudah tidak laik jalan karena merupakan bagian dari pengadaan tahun 1980.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Magetan – Kebakaran SPBU di Karangrejo pada pertengahan 2015 lalu masih membekas bagi Kasatpol PP dan Damkar Magetan Chanif Tri Wahyudi. Sebab, peristiwa tersebut meluas gara-gara hal sepele. Yakni, mobil damkar yang terlambat datang melebihi response time karena jarak lokasi kebakaran cukup jauh dari markas.

Itulah yang membuat Chanif kemudian mengusulkan pengadaan mobil damkar baru pada tahun ini. Nilainya sekitar Rp 2 miliar untuk satu unit mobil damkar. ‘’Saat ini prosesnya masih tahap pengadaan,’’ katanya Jumat  (20/9).

Selanjutnya, mobil damkar itu bakal ditempatkan di kantor Kecamatan Karangrejo. Di situ akan dibentuk unit pelaksana teknis (UPT) yang fungsinya melayani pemadaman kebakaran di wilayah Karangrejo, Karas, dan Kartoharjo. ‘’Pengadaan mobil damkar ini sangat urgen. Karena wilayah kami sangat luas dan waktu penanganan dituntut cepat,’’ ungkap Chanif.

Meski demikian, penambahan satu unit mobil damkar itu belum cukup. Menurut Chanif, wilayah timur dan selatan juga perlu mendapat bantuan penempatan mobil damkar. Hanya, dia mengaku anggaran pemkab terbatas. Sebagai gantinya, pemkab mengajukan permohonan bantuan hibah mobil damkar ke Pemerintah Jepang melalui Kemendagri. ‘’Mudah-mudahan masuk nominasi dan bisa mendapatkan hibah,’’ harapnya.

Kalaupun hibah itu tak dapat terealisasi, Chanif mengatakan proses pengusulan pengadaan kembali bakal dilakukannya tahun depan. ‘’Semua upaya akan kami lakukan agar penanganan kebakaran bisa optimal,’’ ujarnya.

Saat ini, di tempatnya terdapat enam unit mobil damkar. Namun, dua unit armada di antaranya sudah uzur dan sering mogok. Karena pengadaannya dilakukan pada 1980 silam. Namun, dari segi kapasitasnya cukup besar. Dua mobil damkar tua tersebut mampu menampung sekitar 10 ribu liter air. ‘’Kendaraannya sudah tidak layak, kami tidak ingin memaksakan untuk digunakan. Berbahaya, apalagi jika medannya jauh,’’ terang Chanif. (bel/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here