Demi Adipura, Pemkab Bakal Buka TPA Sampah Baru

167

MAGETAN – Bupati Magetan Suprawoto penasaran kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Milangasri. Sebab, lokasi pemrosesan sampah ini jadi biang keladi gagal meraih penghargaan Adipura tahun ini. Bahkan, brace alias dua kali berturut-turut. ‘’Ternyata, TPA Milangasri sudah penuh,’’ katanya kemarin (18/1).

Pengadaan lahan untuk TPA sampah baru pun bakal diambil sebagai jalan keluar agar lambang supremasi bidang pengelolaan sampah dan lingkungan hidup dari pemerintah pusat itu kembali ke Magetan. Selain itu, sarana dan prasarana (sarpras) pengelolaan sampah akan dicukupi.

Pasalnya, peralatan pengolah sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Magetan dengan sistem sanitary landfill dalam kondisi rusak. Hanya tinggal dua unit ekskavator uzur dan satu unit backhoe yang sudah tak berfungsi. ‘’Sarpras penunjang akan kami penuhi, pengelolaan TPA harus sesuai standar,’’ tegasnya.

Kepala DLH Magetan Saif Muchlissun mengatakan, pihaknya masih berusaha mencari lahan baru muntuk membuka TPA sampah baru. Itu pekerjaan rumah (PR) terberatnya saat ini. Sebab, lahan TPA sampah tidak bisa sembarangan. Harus lahan tidak subur. Namun, pindah lokasi menjadi jalan satu-satunya untuk mengatasi daya tampung TPA Milangasri yang sudah overload itu. ‘’Masih kami cari lokasi barunya,’’ ujarnya.

Di lokasi yang baru nanti, pihaknya akan berusaha maksimal mengelola sampah dengan sistem full sanitary landfill. Sampah akan dipilah lebih dulu, kemudian ditimbun dan diratakan setiap hari. Sedangkan di TPA Milangasri sebulan sekali. Untuk merealisasikannya, dia butuh satu unit  ekskavator dan satu unit backhoe. Pun tenaga yang mumpuni untuk mengoperasikan alat berat itu. Juga untuk mengolah gas metana agar dapat dimanfaatkan. ‘’Sudah kami laporkan kebutuhannya kepada bupati untuk dicukupi,’’ ungkapnya.

Di TPA baru nanti, sampah organik akan dijadikan kompos. Sehingga, hanya sampah yang tidak berguna yang ditimbun agar dapat diurai tanah. Pemilahan sampah diharapkan dilakukan warga di bank sampah. Pun sampah anorganik yang dapat didaur ulang tidak dibuang ke TPA. ‘’Jadi, pemilahan sampah bukan di TPA, tapi di sumbernya mulai rumah sampai industri,’’ terangnya.

Agar TPA baru nanti tidak cepat overload, produksi sampah harus ditekan. Bupati sudah menelurkan kebijakan agar toko modern dan pusat perbelanjaan tidak menyediakan kantong kresek. Pembeli diharapkan membawa sendiri kantong ramah lingkungan dari rumah. Rumah makan dan hotel dilarang menyediakan minuman mineral botol plastik dan sedotan. Pun organisasi perangkat daerah (OPD) tidak diperkenankan menyediakan di kantor atau saat mengadakan acara. ‘’Arahannya mulai hulu sampai hilir,’’ sebutnya.

Sejatinya, lanjut Muchlis, pengelolaan sampah di TPA bukan semata untuk mendapatkan Adipura. Itu  hanya bonus. Kendati penghargaan itu mencerminkan pengelolaan sampah dan lingkungan suatu daerah. Dia tetap bakal bekerja keras mengelola sampah dan lingkungan meski tidak ada penghargaan Adipura sekalipun. ‘’Ada atau tidak penghargaan, fokus kami tetap akan bekerja,’’ janjinya. (bel/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here