Demam Berdarah Kembali Mewabah

33

PACITAN – Sempat mereda. Serangan demam berdarah dengue (DBD) kembali mewabah di Pacitan. Bahkan, akhir april lalu, penyakit akibat  gigitan nyamuk aedes aegepty tersebut merenggut nyawa salah seorang warga Kecamatan Punung. Sementara trombosit beberapa warga lainnya anjlok. ‘’Ini jadi keprihatinan kami. Sebab, ada kasus hingga meninggal dunia,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan Wawan Kasianto Kamis (9/5).

Tercatat Februari lalu, serangan DBD mencapai 129 kasus. Bulan berikutnya turun jadi 38 kasus. Sementara April lalu, kembali melonjak 94 kasus. Pun satu penderita meninggal dunia. Memasuki hari kesembilan Mei ini kembali tercatat 34 kasus DBD baru. ‘’Dibandingkan tahun lalu melonjak tajam. Hingga Mei ini sudah  462 kasus. Sedangkan sepanjang 2018 hanya 268 kasus,’’ ungkapnya.

Menurut Wawan, kembali melonjaknya kasus DBD tak lepas dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungn. Berbeda dengan awal tahun lalu, dua bulan terakhir minim hujan. Sehingga minim nyamuk berkembang biak di tempat terbuka seperti genangan air di halaman atau sampah. Dari beberapa survei di lingkungan pasien DBD didapati banyak jentik nyamuk di bak mandi masing-masing. ‘’Tahun lalu, Januri hingga Mei itu trennya meningkat. Tahun ini dari Januari memang sudah tinggi,’’ jelas Wawan.

Wawan menambahkan angka bebas jentik di wilayah Kecamatan Pacitan (kota) tergolong buruk. Dari survei pemberantasan sarang nyamuk (PSN) didapati hampir setiap rumah ada jentik di bak mandi. Dalam satu lingkungan angka bebas jentik hanya 40-50 persen. Padahal untuk PSN kesadaran masyarakat mutlak 100 persen dibutuhkan. ‘’Seluruh warga tahu, seluruh kabupaten tahu bahwa DBD itu penyebabnya nyamuk. Caranya pencegahannya dengan PSN, tapi belum semua sadar,’’ sesalnya.

Wawan berharap ada gebrakan penanggung jawab wilayah masing-masing untuk PSN. Pasalnya, bakal mustahil jika pihaknya bergerak sendiri memeriksa jentik di seluruh Pacitan. Selain sosialisasi, punishment, reward serta denda harus diberlakukan di setiap lingkungan masing-masing atas kesepakatan bersama.

Seperti pemberian hadiah pada penemu jentik hingga hukuman bagi warga yang tak melakukan PSN di rumah masing-masing. Hal tersebut, bisa jadi efek jera bagi warga yang enggan memulai hidup sehat. ‘’Jika satu rumah tidak bebas jentik atau tak peduli, maka bisa menyebar dalam satu lingkungan,’’ sebutnya. (gen/sat) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here