Madiun

Delapan dari 107 Pasien Korona Meninggal

Noktah Kasus Positif Terendah

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Delapan kasus kematian Covid-19 di Kabupaten Madiun seolah menjadi noktah atas rendahnya jumlah kasus positif se-Jawa Timur. Semuanya pasien lanjut usia (lansia). Mayoritas berstatus komorbid atau memiliki penyakit penyerta. ‘’Kebanyakan sudah sepuh dan punya penyakit lain,’’ kata Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setdakab Madiun Mashudi Senin (28/9).

Mashudi memerinci, lima pasien di usia 60-an tahun dan tiga pasien 50-an tahun. Anak muda atau yang punya mobilitas tinggi diminta lebih disiplin protokol kesehatan. ‘’Jangan sampai jadi OTG (orang tanpa gejala, Red) yang kemudian menular ke orang terdekat yang sudah berusia,’’ ujarnya.

Delapan kasus kematian terjadi dalam tiga bulan terakhir. Kali pertama terjadi 18 Juli dengan korbannya perempuan 64 tahun warga Desa Pagotan (selengkapnya lihat grafis). Kasus terbaru FB, 52, yang meninggal Minggu malam (27/9) di RSUD dr Soedono, Madiun. Pria berdomisili di Desa Mojopurno, Wungu, itu dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Kelurahan Klegen, Kartoharjo, Kota Madiun, sesuai KTP-nya. Statusnya aparatur sipil negara (ASN) di Kecamatan Wungu. Jabatannya kasi trantib. ‘’Mari bersama-sama melawan Covid-19,’’ pinta Mashudi.

Camat Wungu Junaedi mengungkapkan, FB sudah sakit-sakitan dalam dua tahun terakhir. Anak buahnya itu menderita penyakit stroke, diabetes, dan jantung. Riwayat penyakit itu membuat FB jarang masuk kerja. ‘’Sejak 7 September tidak ke kantor karena opname,’’ ujarnya.

Junaedi menyebut, pelayanan masyarakat berjalan normal. Seluruh pegawai berjumlah 21 ASN dan empat non-ASN mengikuti uji cepat Covid-19. ‘’Hasilnya nonreaktif,’’ ungkapnya.

Hingga kemarin, kumulatif total 107 kasus positif di Kabupaten Madiun. Perinciannya, sembilan pasien dirawat di rumah sakit dan dua pasien isolasi mandiri di rumah. Sebanyak 88 pasien di antaranya dinyatakan sembuh. (den/c1/cor)

Tunda Uji Coba Belajar di Kelas

KURVA persebaran Covid-19 yang fluktuatif berimbas pada rencana simulasi uji coba pembelajaran tatap muka (PTM). Pemkab Madiun menunda pelaksanaannya di SMPN 1 Mejayan dan SDN 1 Meyajan, dua lembaga pendidikan yang ditunjuk sebagai pelaksana. ‘’Ditunda karena akhir-akhir ini kasus Covid-19 di Kabupaten Madiun agak naik,’’ kata Wakil Bupati (Wabup) Madiun Hari Wuryanto Senin (28/9).

Hari Wur, sapaan wabup, mengatakan, penundaan belajar di kelas atas berbagai pertimbangan. Mulai saran orang tua atau wali murid, tokoh masyarakat, hingga Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19. ‘’Keselamatan anak lebih penting. Pembelajaran tetap akan dimaksimalkan melalui daring (dalam jaringan, Red) dan beberapa program lain,’’ ujarnya.

Wabup belum dapat memastikan kapan PTM bisa digelar. Kasus korona yang naik-turun menyulitkan prediksi itu. Pihaknya berupaya melakukan penanganan secara maksimal. ‘’Kami percayakan ke pemerintah pusat terkait penemuan dan penggunaan vaksin. Intinya, keselamatan anak yang paling utama,’’ tegasnya.

Kepala SMPN 1 Mejayan Agus Sucipto legawa simulasi uji coba PTM ditunda. Dia memprediksi pelaksanaannya dimulai pertengahan Oktober. Tempo itu bisa digunakan untuk menyiapkan protokol kesehatan secara cermat. Apalagi, asal peserta didik di tempatnya berasal dari tujuh kecamatan berbeda. ‘’Kasus positif Covid-19 kan beda antara satu wilayah dengan lainnya,’’ ujarnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close