Pacitan

Delapan Anak Pencuri BBM Nelayan Wawaran Tetap Masuk Bui

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Delapan anak pelaku dugaan pencurian bahan bakar minyak (BBM) nelayan Pantai Wawaran, Pacitan, bakal meringkuk di bui. Polisi menepikan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Mereka dijerat pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara.  ‘’Diversi bisa diterapkan kalau ancaman hukuman di bawah tujuh tahun,’’ kata Kasat Reskrim Polres Pacitan AKP Imam Buchori Rabu (16/10).

Tindak kejahatan delapan bandit cilik itu tidak sesuai Undang-Undang (UU) 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Kendati masih di bawah 18 tahun, Rak, 14; Zul, 14; dan Wah, 15. Juga Yan, 16; Vin, 16; Ram, 15; Dar, 14; dan Rik tetap diproses hukum. Upaya damai yang mungkin dilakukan antara pihak keluarga dengan masyarakat sebagai korban dipersilakan penyidik. Namun, hasilnya sebatas memperingan hukuman, bukan mengubah keputusan. ‘’Korban dan warga sekitar TKP (tempat kejadian perkara, Red) meminta proses hukum tetap berlanjut,’’ ujarnya.

Imam menyatakan, delapan anak asal Kecamatan Kebonagung dan Pacitan itu sudah ditetapkan tersangka. Setelah melalui gelar perkara atas hasil memeriksa keterangan para saksi dan pelaku. Terdapat dua versi berbeda ihwal berapa kali aksi panjang tangan dilakukan. Bila pelaku mengaku baru mencuri BBM jenis premium Pantai Wawaran sebanyak dua kali, saksi menyebut lebih dari empat kali. ‘’Kami segera mengirim berkas penyidikan ke kejaksaan negeri,’’ tuturnya seraya menyebut punya waktu tujuh hari untuk menyelesaikan pemberkasan.

Dia menyebut, delapan anak ditahan di mapolres. Disinggung anak berhadapan hukum (ABH) ditempatkan di lembaga penempatan anak sementara (LPAS) selama proses peradilan, satreskrim punya pertimbangan sendiri. ‘’Penahanan ini untuk melindungi dari amuk massa,’’ katanya. (den/c1/cor)

Kasus ABH Lampaui Tahun Lalu

KASUS dugaan pencurian bahan bakar minyak (BBM) Pantai Wawaran, Pacitan, mengerek angka kriminalitas melibatkan anak di bawah usia 18 tahun. Dari semula tujuh anak berhadapan hukum (ABH), kini meningkat menjadi 15. Jumlah tersebut melampaui jumlah 12 ABH sepanjang tahun lalu. ‘’Tren meningkat karena data 15 anak masih per Oktober,’’ kata Kabid Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (P3A) Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Pacitan Kartika Indah Susana Rabu (16/10).

Ana –sapaan Kartika Indah Susana– menjelaskan, delapan bandit cilik itu melakukan kejahatan karena beberapa faktor. Mulai pergaulan, keluarga, dan kemajuan teknologi. Latar belakang tersebut diketahui hasil melakukan mediasi. ‘’Hanya ikut-ikutan atau salah pergaulan dan tidak memikirkan akibat di belakangnya,’’ ujarnya.

DP2KBP3A telah memberikan pendampingan kepada delapan ABH tersebut. Pendekatan personal hingga keluarga. Organisasi perangkat daerah (OPD) itu berusaha melakukan diversi atau mengalihkan penanganan hukum dari proses pidana ke luar pidana. Selain karena masih di bawah 18 tahun, tujuan lainnya agar bisa kembali ke masyarakat. ‘’Supaya bisa menjadi pribadi yang lebih baik,’’ ucapnya.

Selain ABH meningkat, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak juga terus terjadi di kabupaten ini. Tahun lalu ada delapan kasus persetubuhan, kini ada tiga kasus (selengkapnya lihat grafis). Kategori persetubuhan berada di urutan kedua tertinggi di bawah perbuatan kriminal. ‘’Tentang seksual, penyebabnya karena kemajuan teknologi. Mudahnya akses menonton film porno menjadikan anak-anak penasaran dan ingin mencoba,’’ bebernya.

Ana mengklaim lembaganya telah melakukan pencegahan. Dua upaya lewat sosialisasi ke sekolah melalui forum anak dan pusat pembelajaran keluarga (pustaga). ‘’Diberi edukasi tentang dampak pergaulan,’’ sebutnya. (den/c1/cor)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
close
PENGUMUMAN
Close