Definisi Dalang Bergeser

22

SEIRING perkembangan zaman, definisi hingga cara pembelajaran dalang ternyata juga berubah. Dulu bagi yang ingin mempelajarinya harus baligh. Serta hafal kitab lakon di luar kepala sebelum diperbolehkan memegang wayang. Sebagian besar juga berasal dari keturunan pedalang. ‘’Termasuk saya sendiri keturunan dalang dari canggah (generasi kelima, Red),’’ kata Ki Shento Yitno Carito, salah seorang dalang Ponorogo.

Ki Sentho memperdalam ilmu dalang selama setahun di Solo, Jawa Tengah, 1974 silam. Kebatinan juga turut diasah dengan melakoni beberapa ritual kejawen. Seperti puasa mutih dan tirakat. Dalang dulu kala tidak hanya memainkan wayang dalam pergelaran. Namun, disegani dan dianggap priyani dalam kehidupan sosial. Sebab punya peran memberikan teladan hingga melebihi jabatan seorang kepala desa. ‘’Saat ini dalang hanya warga biasa,’’ ujar kakek 62 tahun itu.

Di era saat ini tidak ada persyaratan khusus. Wayang boleh dipegang meski belum sepenuhnya hafal kitab lakon. Sehingga tidak sedikit dijumpai pedalang yang membuka kitab saat pementasan. Menariknya peminat wayang saat ini kebanyakan remaja yang bukan keturunan dalang. Akan tetapi, dunia wayang diyakini bakal dijauhi bila ketentuan lawas itu diterapkan di era saat ini. ‘’Ya harus diakui zaman sekarang berbeda dengan dulu. Jadi perlu strategi khusus,’’ ungkap pengajar Sanggar Pasopati tersebut.

Di luar teknis pembelajaran, zaman dulu wayang adalah sarana hiburan satu-satunya. Jadi jangan heran bila remaja tempo dulu paham sekali dengan dunia wayang dan terbawa hingga kini. Mulai bahasa, lakon, dan kisah pewayangan. Sedangkan saat ini ada berbagai macam pilihan hiburan. ‘’Terutama keberadaan gadget yang mungkin menjadi salah satu faktor anak-anak tidak familiar dengan wayang,’’ ujarnya. (mg7/cor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here