Debit Kali Madiun Naik, Jembatan Patihan Ditutup

266

MADIUN – Jembatan lama Patihan dipasangi pagar pembatas. Sejak Rabu malam (6/3) warga dilarang melewati jembatan bersejarah tersebut. Larangan itu diberlakukan karena tingginya debit air Kali Madiun sehingga dianggap membahayakan. Juga banyak sampah bambu yang menumpuk di fondasi jembatan bekas rel kereta api (KA) PG Rejo Agung tersebut.

Demi keselamatan, penutupan kemudian dilakukan oleh pemerintah Kelurahan Patihan. Karena konstruksi lantai jembatan yang menjadi penghubung Jalan Mendut dengan Jalan Campursari itu terasa bergetar saat aliran air Kali Madiun menerjang. ’’Ditutup karena memang debit air Kali Madiun naik. Serta kondisi jembatan bergetar ketika berdiri di atas lantai jembatan,’’ kata Trianto Widodo, modin Kelurahan Patihan, kemarin (7/3).

Sebelumnya, jembatan masih digunakan warga sebagai akses penghubung antara Kelurahan Patihan dengan Sogaten. Kendati bantalan kayu sebelum lapisan aspal lantai jembatan itu sudah keropos. Fondasi tiang jembatan juga telah mengalami pergeseran. ’’Sementara tidak bisa dilewati. Nanti baru kembali dibuka setelah debit air Kali Madiun sudah surut,’’ ujar Trianto.

Sebagai gantinya, arus lalu lintas dari Jalan Mendut menuju Sogaten dialihkan melewati jembatan Winongo maupun Jalan Ring Road Barat. Sebenarnya, kejadian seperti ini pernah terjadi pada November 2017 lalu. Saat itu, operasional jembatan Patihan sempat ditutup karena fondasi jembatan mengalami pergeseran.

Meningkatnya debit air Kali Madiun juga menyebabkan jembatan inspeksi pembangunan jembatan KA double track di Prajuritan putus. Jembatan inspeksi yang dibangun dengan material kayu bercampur besi itu juga dipenuhi sampah bambu di bagian fondasi.

Sesuai hasil kajian dinas pekerjaan umum dan tata ruang (DPUTR), secara keseluruhan kondisi jembatan di Kota Madiun tidak begitu memprihatinkan. Hingga akhir 2018 lalu, sebanyak 118 jembatan masih aman. Namun, pemeliharaan tetap dilakukan intensif.

Pemeliharaan berkala diupayakan lewat peningkatan konstruksi pekerjaan jika memungkinkan. Semisal peningkatan lebar badan jalan jika dirasa kurang menampung volume kendaraan. Atau, peningkatan konstruksi fondasi dengan material yang lebih kuat. Khusus jembatan Patihan, DPUTR belum dapat melakukkan assessment perbaikan lantaran status bangunan infrastruktur itu milik PG Rejo Agung. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here