DBD Mewabah di Pacitan, Sehari Muncul 6-9 Penderita

99

PACITAN – Jika dirata-rata setiap hari ada enam hingga sembilan penderita  demam berdarah dengue (DBD) baru di Pacitan. Rerata tersebut terus merangkak naik sejak awal bulan lalu. Hingga kini, 122 warga terjangkit penyakit yang disebarkan nyamuk Aedes aegypti itu. ‘’Hari sebelumnya 116 penderita, hari ini (kemarin, Red) tambah lagi,’’ kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (PPP) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan Wawan Kasiyanto kemarin (29/1).

Kecamatan Pacitan, Arjosari, dan Kebonagung tercatat paling tinggi. Di Kecamatan Pacitan (kota) 50 kasus ditemukan dari dua unit pos kesehatan. Tertinggi di Puskesmas Tanjungsari dengan 40 penderita. Disusul Kecamatan Arjosari 32 penderita. Sebanyak 31 di antaranya ditemukan menyerang kawasan Tremas dan Sedayu. ‘’Di Kecamatan Kebonagung ada sembilan kasus,’’ imbuhnya.

Meski tergolong tinggi, namun Wawan memastikan nihil temuan penderita yang meniggal dunia. Sebab, mayoritas warga langsung ke rumah sakit atau puskesmas saat mendapati gejala DBD. Terkait penetapan status kejadian luar biasa (KLB), pihaknya bakal berkoordinasi dengan pemkab. Pasalnya, jika dibanding periode yang sama 2018 lalu, jumlah penderita meningkat tajam. ‘’Tahun lalu (2018) pada bulan Januari hanya 29 kasus DBD,’’ ulasnya.

Faktor perubahan cuaca dituding sebagai biang pertumbuhan nyamuk. Pasalnya, hujan diselingi panas terik tiga hingga lima hari terakhir memicu genangan air di sekitar permukiman warga. Sedangkan nyamuk Aedes aegypti condong bertahan hidup di tempat bersih. Padahal, cuaca seperti ini diprediksi sebelumnya terjadi Mei mendatang. ‘’Berbeda dengan Januari tahun lalu, hujan turun terus-menerus. Jadi, air mengalir atau tidak menggenang,’’ paparnya.

Selain itu, vegetasi di Kota Pacitan yang didominasi tumbuhan dan ganggang sempit juga menambah potensi tingginya nyamuk bertelur. Tak jarang ada sarang nyamuk di sisa daun kering. Padahal, di Pacitan kondisi tersebut banyak ditemukan. ‘’Walaupun di sini (Pacitan, Red) disebut kota, tapi masih banyak kebun dan kandang,’’ ungkapnya.

Dia berahap, kesadaran masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) meningkat. Pasalnya, cara ini dinilai paling ampuh membunuh jentik. Tak hanya di genangan air, beberapa tempat seperti ban bekas, kaleng, hingga cekungan tanah jadi potensi sarang nyamuk. ‘’Kadang warga tak menyadari dan menganggap enteng potensi tersebut, kalau sudah kejadian baru bingung,’’ sesalnya. (mg6/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here