DBD Menyebar di Desa Ngabar

96

PONOROGO – Tindakan fogging atau pengasapan ternyata tidak efektif untuk mencegah penularan demam berdarah dengue (DBD). Buktinya, dalam sebulan terakhir saja, 15 warga Desa Ngabar, Siman, secara bergiliran keluar masuk rumah sakit akibat terserang penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu. Padahal, penyemprotan insektisida telah dilakukan secara berkala di lingkungan sekitar pasien tersebut.

Kasi Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo Edi Kusnanto menyebut, pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa dan larva, tapi tidak mampu membasmi telur dan jentiknya. Padahal, seekor nyamuk bisa bertelur hingga 100 butir. ‘’Artinya, cepat berkembang biak,’’ kata Edi, Senin  (22/10).

Menurut Edi, cara yang paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD adalah dengan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang meliputi 3M. Yakni, menguras bak mandi, menutup rapat tempat penampungan air, serta mengubur barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Pun pihaknya sudah menyusun rencana strategis. Salah satunya dengan membentuk juru pemantau jentik (jumantik) di setiap rumah. ‘’Tugasnya melakukan survei terhadap keberadaan jentik nyamuk di tempat tinggal mereka serta melakukan PSN seminggu sekali,’’ jelasnya.

Dia menambahkan, program satu rumah satu jumantik itu sudah diterapkan di Kecamatan Babadan yang notabene kawasan endemis DBD. Di wilayah tersebut, sepanjang tahun ini ditemukan 53 kasus. Bahkan, pada Juli lalu sempat menelan seorang korban jiwa. ‘’Hanya, berdasarkan PE (penyelidikan epidemiologi, Red), korban meninggal bukan murni karena DBD, tapi juga dipengaruhi penyakit penyerta seperti hepatitis dan thypoid,’’ terang Edi.

Dia memastikan jumlah kasus DBD sepanjang tahun ini mengalami peningkatan dibanding 2017. Terhitung sejak Januari–Oktober 2018, tercatat sudah ada 321 kasus dengan seorang penderita meninggal dunia. Sedangkan pada tahun lalu hanya 291 dengan dua penderita meninggal (selengkapnya lihat grafis). ‘’Intinya, pencegahan harus dilakukan secara serentak melalui program PSN. Kalau PSN tidak dilakukan serentak, keberadaan nyamuk Aedes aegypti hanya berpindah tempat,’’ sebutnya.

Sebagai langkah awal, bulan depan pihaknya bakal menggelar pertemuan dengan seluruh kepala puskesmas di Ponorogo untuk sosialisasi program satu rumah satu jumantik. ‘’Diharapkan kalau di rumah sudah bebas jentik (nyamuk Aedes aegypti, Red), di lingkungan juga akan terbebas,’’ ujar Edi.

Dia menambahkan, puncak kasus DBD biasanya terjadi pada musim penghujan. Intensitas hujan yang tidak menentu membuat nyamuk Aedes aegypti cepat berkembang biak. ‘’Kadang hujan deras, tapi beberapa hari kemudian tidak hujan. Selama beberapa hari itu, genangan air menjadi tempat subur bagi pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti,’’ ungkapnya. (her/c1/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here