DBD Meneror, Bupati Kumpulkan Camat dan Kepala Puskesmas

90

PONOROGO – Ruang rapat Bantarangin di Kantor Bupati Ponorogo dipersiapkan sejak sebelum pukul 11.00 kemarin (28/1). Sebanyak 21 camat dan kepala puskesmas dari seluruh kecamatan dikumpulkan di ruangan itu. Bintang utama di ruang rapat itu adalah Kepala Dinkes drg Rahayu Kusdarini. Pintu ditutup hingga sekitar pukul 14.30. Sekeluar ruang rapat, Bupati Ipong Muchlissoni menyatakan satu hal. ‘’DBD sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Saya putuskan untuk ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB),’’ katanya.

Ratusan penderita dan tujuh nyawa hilang pada awal tahun ini menjadi persoalan serius. Pemkab seolah tak berdaya melawan nyamuk yang terbukti serangannya tidak pandang bulu. Muara persoalan, kata Ipong, adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang kurang berjalan dengan baik. Contoh, genangan air akibat sampah. ‘’Kami meminta seluruh puskesmas dan camat rutin kerja bakti menggalakkan PSN ini,’’ ujarnya.

Penetapan status luar biasa ini artinya harus diimbangi dengan langkah pencegahan yang luar biasa pula. Sejauh ini, pemkab tak ingin gencar fogging. Entah karena pengasapan pestisida itu dinilai kurang efektif. Atau, berkait keterbatasan penganggarannya tahun ini.  ‘’Kalau alat fogging kurang, kami tambah dari dana on call atau dana tidak terduga. Kami juga minta seluruh puskesmas untuk menggratiskan semua pasien DBD. Supaya tidak terulang, terulang, dan terus terulang,’’ tegas Ipong.

Data yang dihimpun Radar Ponorogo, 457 warga terjangkit DBD sepanjang Januari ini. Data tersebut merupakan hasil rekapitulasi data pasien DBD di empat rumah sakit. Perinciannya, 179 pasien di RSUD Dr Hardjono dan 216 pasien di RSU Aisyiyah. Sisanya dirawat di RSU Darmayu dan Muhammadiyah. Terbaru, nyamuk pembunuh nomor satu di Bumi Reyog itu juga merenggut nyawa seorang pegawai dinas perhubungan (dishub).

Terpisah, Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo dr Yayuk Dwi Wahyuni membenarkan wabah DBD semakin meningkat di pembuka awal tahun ini. Versi dinas kesehatan (dinkes), jumlah warga yang terjangkit DBD mencapai 172 penderita. ‘’Mulai anak-anak hingga dewasa,’’ kata Yayuk.

Tiga di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Terkait perbedaan data ini, dia mengungkapkan bahwa pasien yang meninggal dunia biasanya disertai penyakit bawaan. ‘’Misalnya, yang terjangkit DBD itu ternyata memiliki penyakit lain yang bisa menjadi penyebab kematian,’’ ujarnya.

Terkait dengan wilayah endemis, Yayuk menyatakan seluruh kecamatan rawan. Sebab, hingga kini serangannya merata. Namun, Kecamatan Sambit menjadi wilayah paling endemis. ‘’Semua merata, warga di setiap kecamatan pasti ada yang terkena. Sambit paling tinggi,’’ ungkapnya.

Wabah tersebut merupakan kejadian luar biasa yang harus segera ditindaklanjuti. Seluruh upaya telah pihaknya lakukan. Mulai fogging di desa-desa hingga tak henti-hentinya mengampanyekan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serentak. ‘’Ini tidak bisa dibiarkan, mari kita bersama-sama bergerak agar cepat tertangani,’’ harap Yayuk.

Dinkes pun menerbitkan surat edaran (SE) kepada seluruh camat untuk menggalakkan warga PSN serentak, Jumat lalu (18/1). Namun, sejak SE itu diedarkan, penambahan jumlah pasien tetap tidak terbendung. Nyatanya semakin meningkat. ‘’Ini tidak hanya dibebankan kepada kami karena semua juga harus bertanggung jawab. Tentunya dengan PSN serentak. Kami ajak seluruh warga untuk memberantas wabah tersebut,’’ imbaunya.

Meledaknya kasus DBD juga tidak terlepas dari cuaca yang tidak menentu. Kadang hujan kadang panas, menyebabkan air tergenang. Itu menjadi tempat kesukaan nyamuk untuk berkembang biak. Sedangkan cuaca seperti ini, menurut data yang dirilis BMKG, akan terjadi hingga bulan mendatang. ‘’Fogging tidak dapat memberantas sepenuhnya. Satu-satunya jalan tetap menjaga kebersihan lingkungan,’’ ucapnya. (naz/mg7/c1/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here