Data Penderita DBD Dinkes-Rumah Sakit Jomplang

78

MADIUN – Jumlah penderita demam berdarah (DBD) di Kabupaten Madiun jomplang. Catatan dinas kesehatan (dinkes) setempat sepanjang tahun ini berbeda dengan fakta di lapangan. Jauh lebih sedikit ketimbang yang ditangani sejumlah rumah sakit.

Hingga Senin pagi (4/1) dinkes mencatat hanya ada 102 pasien DBD. Termasuk Desember 2018, dua pasien meninggal akibat penyakit gigitan nyamuk aedes aegypti itu. Angka tersebut dihimpun dari laporan puluhan puskesmas serta RSUD Caruban dan RSUD Dolopo.

Nyatanya, jumlah pasien ditangani berbeda. RSUD Dolopo misalnya, selama Januari merawat 120 pasien. Berlanjut pekan pertama Februari ini bertambah 23 pasien baru. Pendek kata, dibanding satu institusi layanan kesehatan saja, data dinkes terpaut jauh. Mengapa berbeda?

Kabid Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit (PPP) Dinkes Kabupaten Madiun Agung Tri Widodo berdalih laporan dari rumah sakit masih perlu di-review. Butuh klasifikasi antara pasien positif DBD dan suspect DBD. Yakni, dicek penurunan trombosit dan peningkatan hematokrit. Itu sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lewat pedoman pengendalian DBD. ‘’Hasilnya, tidak banyak pasien positif DBD dari laporan masuk,’’ katanya kemarin (5/1).

Agung menegaskan penanganan pasien suspect atau positif DBD tetap sama. Perbedaan tersebut tidak akan mengganggu upaya penanggulangan DBD. Data yang masuk dipakai untuk memetakan masalah. Ketika rumah sakit lebih menerapkan upaya kesehatan perorangan (UKP), pihaknya menjalankan upaya kesehatan masyarakat (UKM). Identitas para penderita bakal diteruskan ke puskesmas wilayah masing-masing. ‘’Sebagai bahan pengkajian PSN (pemberantasan sarang nyamuk),’’ ujarnya.

Terpisah Direktur RSUD Dolopo Purnomo Hadi memastikan seratusan pasien yang dirawat positif DBD. Sebab, hasil pemeriksaan laboratorium, menunjukkan kadar trombositnya di bawah 100 ribu per milimeter kubik darah. Juga ada peningkatan kadar hematokrit minimal 20 persen. Itu merupakan batasan dalam mendiagnosa suspect atau positifnya pasien DBD. ‘’Yang kami rawat itu (trombositnya, Red.) sudah di bawah 100 semua,’’ ungkapnya.

Purnomo enggan mengomentari masalah perbedaan data tersebut. Kewenangan dinkes membeber ke publik berapa kumulatif pasien DBD. Pihaknya sebatas menyerahkan laporan seiring tingginya peningkatan penderita. ‘’Yang jelas, kami berikan layanan semaksimal mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,’’ tuturnya.

Sementara Sutowo, dokter spesialis penyakit dalam RSUD Dolopo menyebut seratusan pasien positif DBD itu terdiri 48 anak-anak dan 84 dewasa. Mereka terpapar virus dengue karena faktor bawaan pasien, perantara virus, dan lingkungan tidak sehat. Kalangan usia di atas 15 tahun mendominasi karena beberapa alasan.

Pertama, daya tahan tubuh memang tidak kuat. Juga berdasar patofisiologi, yang bersangkutan punya riwayat DBD. Ada infeksi sekunder setelah kembali terkena gigitan nyamuk aedes aegypti. ‘’Mungkin itu yang menyebabkan tren penderita DBD tidak lagi didominasi anak-anak,’’ bebernya. (cor/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here