featuresPonorogo

Dari Tukang Bersih Rumah, Andi Widodo Kini Jadi Manajer Hotel

Andi Widodo adalah juara I Kakang Ponorogo 2010. Dengan segudang prestasi dan multitalentanya, kini dia jadi manajer salah satu hotel ternama di Bumi Reyog. Dia pun familier di panggung hiburan. Ada kisah getir di balik perjalanan anak petani desa ini.

______________

Gaya bicara dan suara Andi Widodo masih seperti dulu. Saat dia jadi ketua OSIS di SMA, saat jadi pengurus senat mahasiswa dan berbagai aktivitas di komunitas. Obrolan via telepon seluler itu berlanjut di salah satu kafe di Jalan Pramuka. Suasana sore yang nyaman. Setelah setengah jam hujan mengguyur reda. Menyejukkan panas yang menyengat siang sebelumnya.

Berbagai pengalaman diceritakan setelah sekian lama tak berjumpa. Pun berbagai prestasi mengiringi perjalanan pria kelahiran 1987 itu. ‘’Saya menemukan dunia saya di bidang parwisata dan broadcasting. Seiring perjalanan waktu berbagai pengalaman melangkahkan kaki ini,’’ kata Andi.

Sebagai manajer hotel ternama di Ponorogo, dia selalu meluangkan waktu untuk memenuhi permintaan sebagai pembawa acara. Seni berbicara pria asli Desa Pupus, Ngebel, itu telah terasah sejak masih di bangku SMA. Dia pun kerap diundang menyanyi. Namanya mulai moncer sejak jadi juara I Duta Wisata Kakang-Senduk Ponorogo 2010. Ketika itu dia masih kuliah Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo. ‘’Perjalanan panjang, saya anak petani desa,’’ lanjutnya.

Selang setahun, Andi kembali mengukir berbagai prestasi. Mulai Juara Duta Wisata Jatim 2011, Juara 2 BRIPo Idol 2013, hingga gelar kanjeng raden tumenggung (KRT) dari Keraton Solo 2016. Pencapaian itu merupakan jerih payah usahanya sejak masih kecil. Anak kedua tiga bersaudara pasangan Atim-Sinem itu sejak kecil rajin membantu orang tuanya. Bahkan, saat SMP, dia rela jadi anak asuh agar dapat membiayai sekolahnya. Itu berlanjut hingga di SMA.’’Pagi bersih-bersih rumah, lalu berangkat sekolah. Sorenya juga bersih-bersih rumah orang tua asuh,’’ ungkapnya.

Menyadari berasal dari keluarga kurang mampu, Andi termotivasi mengubah hidupnya. Saat kuliah dia bekerja paro waktu sebagai penjaga toko. Saat persiapan mengikuti pemilihan Kakang-Senduk, dia belajar di sela jaga toko. Usahanya membuahkan hasil. Dari prestasi itu, potensinya semakin terlihat. Hingga posisinya sekarang ini. ‘’Saya sadar dari keluarga kurang mampu. Saya tergerak melihat anak-anak yang bernasib sama,’’ sambungnya.

Kini Andi aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Merawat anak-anak tidak mampu. Bahkan menanggung biaya pendidikannya. Pun membantu finansial. Dia tidak ingin mereka tidak dapat mengenyam pendidikan. Baginya, dapat membantu mereka menempuh pendidikan setinggi-tingginya merupakan kebahagiaan tersendiri. ‘’Satu hal yang terus saya ajarkan kepada mereka, jika bukan diri sendiri yang mengubah keadaan siapa lagi? Pasrah pada keadaan itu bukan solusi. Agar kelak mereka juga mandiri,’’ tuturnya.*** (nur wachid/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close