Dari Sekadar Pehobi, Dwi Yudho Laris Diundang Jadi Juri Lomba Burung

19
HARUS OBJEKTIF: Dwi sedang mengamati salah satu burung kicau piaraannya.

Pengetahuan dan pengalaman Dwi Yudho Widiastomo seputar burung kicau mengantarnya menjadi juri lomba. Pun, pria itu dituntut bersikap objektif saat menilai performa burung para peserta kontes.

—————-

DENI KURNIAWAN, Ngawi

BEBERAPA sangkar burung komplet isinya menggantung di pelataran rumah Dwi Yudho Widiastomo. Jenis unggas itu tak henti berkicau saat si empunya menjentikkan jari sembari bersiul sesekali. Sejurus kemudian, salah satu sangkar diturunkan dari gantangan. Jatah pakan dan minum piaraan diisi ulang. ‘’Sehari-hari ya seperti ini kegiatannya,’’ kata Dwi sesaat setelah menggantung kembali sangkar yang baru diambil.

Sedari kecil Dwi sudah suka memiara burung. Dari hobinya tersebut, berbagai perlombaan burung kicau diikutinya. Lambat laun, dari yang awalnya sebagai peserta, pria 46 tahun ini dipercaya menjadi juri. ‘’Sekarang juga masih punya burung lomba, tapi lebih sering diminta njuri,’’ ujarnya.

Sebagai juri, berbagai perlombaan burung kicau telah didatangi Dwi. Mulai jenis love bird sampai perkutut. Tidak hanya Ngawi, tapi juga daerah-daerah lain di eks Karesidenan Madiun. ‘’Awalnya dulu sebatas dimintai tolong kenalan untuk menjuri, lama-kelamaan tambah sering,’’ ungkap warga Kelurahan Margomulyo, Ngawi, ini.

Sebagai seorang juri, berbagai karakter dan performa burung di perlombaan telah dijumpainya. Kendati begitu, Dwi mesti bersikap objektif. Latar belakang burung tidak boleh memengaruhi penilaian. ‘’Penilaian tidak hanya dari bagus tidaknya suara. Kinerja burung, putus-putus atau ngedur tidaknya kicauan juga masuk perhitungan,’’ sebutnya.

Sejumlah rupiah sudah sewajarnya dikantongi Dwi setiap kali menjadi juri. Kendati demikian, berbagai pandangan miring kerap tertuju padanya. Terutama dari peserta lomba burungnya sudah punya nama, tapi kalah dalam perlombaan.

Menjadi pergunjingan mulai di warung sampai media sosial (medsos) kerap menimpa dirinya. Namun, istri Eri Iswidyaningrum ini tak mau ambil pusing menyikapinya. ‘’Ya mau bagaimana lagi wong burungnya demam panggung. Kalau memang saya curang atau bagaimana, tidak mungkin dipanggil njuri ke beberapa daerah,’’ ucapnya.

Sebagai seorang juri yang juga pernah menjuari berbagai lomba sebelumnya, Dwi sedikit berbagi ilmu tentang kicau mania. Yakni, bahwa ada kalanya burung enggan bercikau di hadapan juri. Penyebabnya, si pemilik salah menyetel sebelum burung naik gantangan perlombaan. ‘’Dari kebiasaan memandikan sampai jumlah jangkrik yang diberikan, juga memengaruhi performa burung,’’ terang Dwi. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here