Dari Buruh Tani, Suwandi Dipercaya Jadi Tukang Kebun Taman Hutan Kota

223

Hijaunya ratusan pohon di Taman Hutan Kota tidak terlepas dari tangan dingin Suwandi. Pengalaman menahun menjadi buruh tani memudahkan pria 45 tahun itu merawat berbagai jenis tanaman di lokasi tersebut.

———————-

AZAN subuh berkumandang. Suwandi bergegas mengambil wudu dan menunaikan salat. Beberapa menit kemudian dia mengeluarkan motor dari rumah. Lalu menggebernya menuju Taman Hutan Kota di Jalan Basuki Rahmad.

Setibanya di sana,  Suwandi langsung menuju sumber air taman. Ditariknya slang mengitari area pepohonan dan mulai menyirami ratusan pohon di lahan seluas 1,5 hektare itu.

Saat hari beranjak siang, Suwandi ganti mengambil alat semprot, lalu menggantungnya di punggung. Kemudian mengecek satu per satu pohon palem. Ketika menemukan dedaunan yang berlubang, dua menyemprotnya dengan pestisida. ‘’Setiap hari disemprot. Jika tidak, daunnya bisa habis dimakan ulat,’’ katanya.

Sudah tujuh bulan pria 45 tahun ini merawat sekitar 500 pohon di Taman Hutan Kota. Mulai beringin, kaki gajah, buni, jacaranda, sakura, balibong, bambu, juwet, cemara, sedap malam, kayu putih, hingga kayu manis. ‘’Sejak pertengahan tahun lalu kerja di disperkim (dinas perumahan dan kawasan permukiman, Red). Sebelumnya buruh tani,’’ ungkapnya.

Suwandi pula yang ikut menanam ratusan pohon kiriman dari Kediri beberapa bulan lalu. Kini, sebagian  tanaman ’’impor’’ dari daerah tetangga itu telah bersemi hijau. ‘’Caranya diajari pengusaha yang memasok tanaman itu. Pohon beringin, misalnya, kedalaman lubang tanahnya sampai dua meter biar akar pohon kuat,’’ bebernya.

Pengusaha bernama Sunarti itu pula yang meminta Suwandi menjadi tukang kebun. Berawal saat pria itu masih bekerja serabutan di kawasan hutan kota. ‘’Sampai sekarang kalau bingung pohonnya nggak semi-semi, saya langsung telepon Bu Narti,’’ ucapnya.

Bukan perkara mudah melakoni pekerjaan sebagai tukang kebun Taman Hutan Kota. Masih segar dalam ingatannya di awal-awal merawat ratusan pohon di lokasi tersebut. Suwandi harus berebut air dengan pekerja pembangunan taman. ‘’Menanamnya kebetulan bersamaan dengan pengerjaan proyek,’’ paparnya.

Agar tanamannya tumbuh baik, Suwandi lantas berinisiatif  datang lebih pagi. Penyiraman dijadwal pukul 04.30 sampai 08.00. Berlanjut sore hari pukul 15.00 hingga menjelang magrib. Sebelum menyiram sore, dia bersama pekerja bangunan mengisi sejumlah gentong air untuk kebutuhan proyek. ‘’Jadi, untuk keperluan proyek bisa pakai air gentong dulu,’’ ungkapnya.

Dari beberapa jenis tanaman di Taman Hutan Kota, Suwandi merasa paling sulit merawat pohon asam Jawa dan juwet. Maklum, dua jenis pohon tersebut lebih cocok ditanam di daerah dataran tinggi yang berhawa dingin. ‘’Nggak tahan panas. Pohon gempol juga susah, cocoknya ditanam di pinggiran sungai,’’ jelasnya.

Meski harus menghadapi sejumlah tantangan, Suwandi tetap enjoy menjadi tukang kebun Taman Hutan Kota. Kebetulan, sedari kecil dia hobi bercocok tanam. ‘’Merawat tanaman itu seperti ngopeni anak, dimong awit bayi. Harus telaten memang,’’ sebutnya. ***(dila rahmatika/isd/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here