Dari Buruh Pabrik, Bayu Triwahyono Menjelma Jadi Bos Konveksi

19

MADIUN – Jatuh bangun dialami Bayu Triwahyono saat merintis sebagai wirausahawan. Tren jual beli online menjadi jalan bapak satu anak itu berkibar dengan bisnis konveksinya.

RUMAH Bayu Triwahyono di Jalan Terate sore itu tampak dipenuhi tumpukan kaus yang sudah di-packing dalam plastik bermerk. Sementara, beberapa orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang men-staples merk di bagian kerah dan mellipat pakaian dengan cetakan kayu sebelum akhirnya dimasukkan dalam plastik. Aa pula yang memasukkan kemasan tersebut ke karung.

Beranjak ke bangunan tidak jauh dari rumah itu, tampak belasan orang menyablon lembaran kaus dengan gambar-gambar lucu. ‘’Nantinya kaus yang sudah disablon dibawa ke pabrik konveksi untuk dijahit. Setelah itu, memasang merk di rumah saudara. Lalu, dikemas di sini,’’ kata Bayu.

Bapak satu anak itu merintis bisnis konveksi sejak 2012 silam. Sebelumnya dia bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di Tangerang selama lima tahun. ‘’Waktu kerja di pabrik memang sudah saya niatkan tidak akan lama di sana dan punya usaha sendiri,’’ papar pria 33 tahun ini.

Setelah resign, Bayu membawa beberapa potong kaus dari pabrik tekstilnya untuk dijual kembali di Madiun. Bekerja sama dengan sales, dia mulai menjalan roda bisnisnya. Sistemnya, barang dititipkan ke toko dan baru menerima uang setelah dalam jangka waktu tertentu.

Hal itu membuat pendapatannya tidak sesuai harapan. Bayu akhirnya memutuskan berhenti jualan kaus dan mencari peluang bisnis lainnya. Mulai beternak ayam sampai usaha kuliner ayam panggang. ‘’Tapi semuanya nggak bertahan lama,’’ ujarnya.

Singkat cerita, Huliyatul Jannah istri Bayu tertarik menjual beberapa potong sisa kaus yang dulu tidak laku ke media sosial. Tak disangka, barang ludes terjual.  Sejak itulah Bayu tergerak untuk membangun kembali bisnis jual beli kaus dengan pemasaran melalui dunia maya. ‘’Itu tahun 2016, orang masih jarang jualan online, nggak seperti sekarang,’’ ungkapnya.

Kala itu, Bayu masih menjual produk kaus buatan pabrik tekstil Tangerang. Belakangan dia menilai motif dan desainnya kurang mengikut tren pasar. Akhirnya, dia memilih kulakan kaus polos dan membuka usaha sablon. Urusan desain dipasrahkan ke desainer freelance. ‘’Saya sempat  bikin kaus gambar bus dengan tulisan om telolet om yang waktu itu booming,’’ ujarnya.

Satu masalah teratasi, muncul masalah baru. Sejumlah pelanggan mengeluhkan kualitas kaus buatannya. Lalu, munculah ide memproduksi sendiri dengan mengambil bahan katun dari sebuah pabrik. ‘’Lantas kami kerja sama dengan teman istri teman yang bisa mengoperasikan mesin jahit konveksi,’’ kenangnya.

Bayu membeli tiga mesin jahit konveksi. Awal pesanan, dia hanya mampu memproduksi 50 piece. Kini, kapasitas produksi pabriknya mencapai sedikitnya 30 ribu kaus per bulan. Pun, pabrik konveksinya bertambah menjadi empat dengan 40 karyawan. Omzet perbulan mencapai ratusan juta. ‘’Sementara ini saya hanya bikin kaus anak usia 1-6 tahun,’’ sebutnya.

Sejauh ini pelangganya baru wilayah Jawa. Paling banyak dari Surabaya, Malang, Jogjakarta, dan Bekasi. Mereka mayoritas reseller yang menjual kembali produknya lewat marketplace yang bertebaran di dunia maya. ‘’Kami hanya menerima pesanan dengan sistem pre-order. Semisal pesan 800 lusin, bayar di awal, nanti setiap minggu saya kirim 200 lusin,’’ bebernya.

Kunci kesuksesan Bayu adalah menjalankan bisnis dengan menghindari utang. Selain itu, tidak lupa dengan kewajiban berzakat. Dia rutin zakat setiap bulan dengan nominal disetarakan pemasukan yang diperoleh. ***(isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here