Dapil III Ngawi: Mencari Penantang Kuat Petahana

73

NGAWI – Keberadaan calon petahana menjadi tantangan besar bagi para calon anggota legislatif (caleg) baru di dapil III pada Pemilu 2019. Apalagi jumlah kursi yang dialokasikan untuk dapil tersebut juga sama dengan Pemilu 2014 lalu. Artinya, semua caleg baru harus siap kerja keras untuk meraih suara jika ingin merebut kursi dari para incumbent.

Ketua KPU Ngawi Syamsul Wathoni mengungkapkan, untuk Dapil Ngawi III memang nyaris tidak ada perubahan sama sekali. Baik dari sisi komposisi wilayah maupun alokasi jumlah kursi. Dapil tersebut terdiri dari tiga kecamatan yakni Kecamatan Geneng, Gerih, dan Kendal. Dengan jumlah alokasi kursi legislatif sebanyak tujuh kursi. ‘’Semua tidak berubah kecuali untuk jumlah penduduk atau pemilihnya,’’ kata Toni, sapaan akrabnya.

Toni menyebutkan, jumlah pemilih di Dapil Ngawi III sekarang kurang lebih ada 111.956 jiwa. Dengan perincian jumlah pemilih laki-laki sebanyak 54.721 jiwa dan pemilih perempuan sebanyak 57.244 jiwa. Meski mengalami perubahan, namun Toni menyebut angkanya juga tak jauh berbeda dengan jumlah pemilih sekarang. ‘’Perubahan itu pasti ya, karena berkaitan dengan fluktuasi jumlah penduduk. Tapi, bedanya tidak banyak, makanya saat dikonversikan ke jumlah kursi hasilnya masih tetap tujuh kursi,’’ paparnya.

Sementara jika melihat dari daftar calon tetap (DCT) Pemilu 2019, ada sedikit mengalami perubahan untuk jumlah kontestan yang akan bersaing memperebutkan kursi. Pada Pileg 2014 lalu, jumlah caleg yang terdaftar di Dapil Ngawi III ada 70 caleg. Sedangkan di pileg kali ini jumlahnya naik sedikit menjadi 72 caleg. Dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya merupakan petahana. Di antaranya ada Khoirul Anam Mu’min (PKB), Sadik (PKS), Agnes Endang Dwi Mardiani dan Edi Supriyadi (PDI Perjuangan), Yudho Ari Saputro (Gerindra), Endang Nurbyaningsih (PPP), serta Siti Fatimah (Hanura).

Di antara ketujuh incumbent tersebut, hanya Siti Fatimah yang masa jabatannya paling sedikit di dewan. Lantaran statusnya sebagai pejabat pergantian antar waktu (PAW) dari suaminya Setyo Armodo yang meninggal dunia. Selain itu, kemungkinan dia juga menjadi yang paling lemah untuk mempertahankan kursinya di dewan. Mengingat dalam Pileg 2014 lalu, perolehan suara Siti Fatimah hanya 71 suara. Berbeda jauh dengan perolehan mendiang suaminya yang mendapat 4.913 suara.

Namun, bukan berarti petahana yang lain aman. Dan sepertinya mereka juga perlu kerja keras untuk mempertahankan kursinya. Karena bukan tidak mungkin, Golkar yang kala itu gagal merah kursi sama sekali pasti akan bangkit untuk meraih minimal satu kursi. Belum lagi adanya calon baru yang memiliki ketokohan cukup menonjol di masyarakat. Misalnya mantan Sekretaris Dinas Perumahan dan Permukiman (PKP) Ngawi Sudirman. Karena itu, meski sudah memiliki modal awal sebagai anggota dewan, petahana juga perlu mewaspadai semua kemungkinan yang akan terjadi. (tif/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here