Dandim Asli Manado Ini Mencicipi Tradisi Jawa

132

PACITAN – Komandan Kodim 0801 Pacitan Letkol Kav Aristoteles Hengkeng Nusa Lawitang mengenakan busana Jawa lengkap. Atasan surjan dengan bawahan kain batik, belangkon di kepala, dan keris terselip di pinggang. Kemarin (11/2) Aristoteles memang tampil beda karena punya hajat mitoni (tujuh bulan) kehamilan kedua sang istri, Wenda Maria.

Meski berasal dari Manado, Aristoteles yang pindah tugas ke Pacitan September 2017 lalu sengaja ingin mencicipi budaya Jawa. Mumpung berada di Pacitan yang dijuluki Paradise of Java. Pun agar berbeda dengan prosesi anak pertamanya yang lebih western dengan baby shower. ‘’Apalagi istri juga punya darah Jawa. Dari Ibunya, Solo,’’ katanya.

Seluruh rangkaian prosesi membuatnya terkesan. Salah satunya akrabnya tradisi Jawa dengan berbagai simbol. Seperti tradisi mitoni yang kental dengan angka tujuh, berasal dari kata pitu yang dianggap sempurna. ‘’Angka yang berkesinambungan, overlasting. Menggunakan tujuh warna, tujuh telur, hingga tujuh mata air untuk siraman,’’ terangnya.

Dengan mitoni tersebut, Aristoteles berharap anak keduanya kelak paham tradisi sejak masih di kandungan. Dia tidak meminta orang di sekitarnya mengikuti hajatnya. Namun, sekadar ingin menunjukkan salah satu kekayaan budaya Jawa tersebut. ‘’Karena kebudayaan ada banyak, jadi silakan pilih,’’ ujarnya.

Minuk, pemandu tradisi, mengungkapkan mitoni digelar sebagai wujud syukur selama proses kehamilan hingga persalinan. Harapannya, momongan yang diberikan selamat dan lengkap tanpa kekurangan apa pun. ‘’Kalau dalam istilah Jawa sehat, slamet, dan jangkep,’’ sebutnya.

Semua prosesi dilalui Aristoteles dan istrinya dengan sungguh-sungguh. Mulai sungkeman Wenda kepada Aristoteles dan orang tuanya. Wenda yang sudah mengenakan kain didudukkan di sebuah kursi kayu. Bersamaan itu, orang tuanya memasukkan dua cengkir gading bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih ke dalam bejana berisi air dari tujuh sumber mata air.

Air rendaman cengkir gading itu untuk siraman. Satu per satu keluarga mengguyur badan Wenda dengan air yang juga berisi kembang setaman. Usai siraman, dilanjutkan upacara brojolan yang terdiri dari beberapa tahap meluncurkan telur. Aristoteles memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain istrinya dari atas perut hingga telur lepas dan pecah. ‘’Harapan agar bayi lahir tanpa aral melintang,’’ jelasnya.

Selanjutnya pecah kendi. Lalu proses berganti tujuh busana. Prosesi tersebut menggunakan kain panjang dan kemben tujuh buah dengan motif berbeda. ‘’Semuanya memiliki perlambang berbeda. Ada kebahagiaan, kemuliaan, dan lainnya,’’ paparnya.

Acara mitoni diakhiri dengan jualan rujak dan makan bersama. Para tamu dibagikan duit-duitan dari kreweng atau tanah liat dan bisa dijadikan suvenir. “Uang” tersebut untuk membeli rujak yang dijual Aristoteles dan istrinya. Rujaknya pun terdiri dari tujuh macam buah. Harapannya, agar anak yang dilahirkan dapat meneladani ketekunan orang tuanya, khususnya sang ibu, dalam memberi kesegaran kepada sesama. (odi/c1/sat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here