Dana Bantuan Kekeringan Cupet, Juli Diprediksi Habis

10
SUMBER AIR: Bendungan Gonggang yang diharapkan mampu menyuplai kebutuhan air baku untuk pertanian dan masyarakat ternyata tak sesuai ekspektasi. Karena pintu air bendungan rusak.

MAGETAN – Bupati Magetan Suprawoto sudah menggariskan agar suplai air kepada korban kekeringan tidak sampai kekurangan. Namun, di lapangan hal itu sulit terwujud. Karena anggaran yang disiapkan hanya Rp 6 juta. Atau hanya setara 1,2 juta liter. Padahal, warga terdampak mencapai ribuan jiwa.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Magetan Fery Yoga Saputra mengaku anggaran itu dirasa kurang untuk menangani dampak kekeringan. Apalagi, musim kemarau tahun ini datang lebih awal. ‘’Sangat kurang,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Magetan Jumat (28/6).

Diungkapkan, proses distribusi air bersih sudah dilakukan ke desa-desa terdampak kekeringan sejak 18 Juni lalu. Seperti Desa Trosono dan Sayutan. Sampai dengan saat ini sudah 13 tangki atau sekitar 78 ribu liter air yang diperbantukan ke masyarakat.

Bahkan, Fery menambahkan itu belum termasuk permintaan bantuan distribusi air bersih ke wilayah Karas. Antara lain di Desa Kuwon dan Karas. Dia menyebut kebutuhan air bersih di dua desa tersebut lebih besar dibandingkan masyarakat di Desa Trosono dan Sayutan. Di mana kebutuhan air bersihnya mencapai lima tangki di Kuwon dan Kawas. Sementara di Trosono dan Sayutan hanya sekitar tiga tangki. ‘’Tapi, pengajuan (dropping air bersih) belum masuk,’’ ungkapnya.

Diakuinya, kebutuhan air bersih di wilayah Karas lebih banyak lantaran ada sekitar 3 ribu warga yang terdampak. Belum lagi sumber-sumber air yang ada sudah mengering. ‘’Dengan sisa anggaran belanja air saat ini, hanya menyisakan 187 tangki,’’ kata Fery.

Dengan demikian, lanjut dia, setidaknya sisa 187 tangki itu hanya mampu untuk mencukupi distribusi selama 18 hari. ‘’Masih kurang banyak, tapi kami akan ajukan saat PAK (perubahan anggaran keuangan),’’ terangnya.

Diakuinya, anggaran bantuan distribusi air bersih tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2018. Saat itu, alokasi anggarannya hanya sebesar Rp 3 juta untuk membeli air di Sumberdodol, Panekan. ‘’Kami sudah ajukan tambahan bantuan ke pemprov. Persyaratannya sudah kami penuhi. Saat ini sedang pembuatan SK (surat keputusan) untuk pengiriman air,’’ jelas Fery. (bel/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here