Dampak Kemarau Panjang, Waduk Jadi Sawah Dadakan

351
SUMBER AIR: Waduk Saradan sebagian lahannya dipakai warga untuk bercocok tanam padi saat musim kemarau.

MADIUN, Jawa Pos Radar Caruban – Debit air Waduk Dawuhan makin menyusut. Kondisi itu kemudian dimanfaatkan oleh sebagian warga setempat untuk menanam padi di tanah dasar waduk. Dengan harapan bisa tetap panen saat musim kemarau panjang. ‘’Hal itu sudah wajar saat musim kemarau, dan ketika air waduk sedang mengalami penyusutan,’’ kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Supriyanto.

Diakuinya, kemarau panjang tahun ini memang berdampak pada lahan pertanian. Tetapi, para petani umumnya sudah mempunyai cara tersendiri menyikapi kondisi tersebut. Seperti upaya mereka menghemat penggunaan air untuk pengairan sawah. ‘’Masyarakat sudah semakin pintar dalam meminimalkan penggunaan air yang ada,’’ ujarnya.

Heru Pujianto, salah seorang petani di Kebonsari, menyebut kebutuhan air untuk pertanian saat musim kemarau memang meningkat. Namun, di sisi lain, kondisi air yang ada justru makin menipis. ‘’Hal itu dikarenakan banyak petani memanfaatkan sumur sibel untuk pengairan sawah. Sumur itu menyedot air dalam tanah dengan volume besar,’’ terangnya.

Berkaca kondisi tersebut, Heru berharap pemkab mengeluarkan kebijakan pembatasan penggunaan sumur sibel bagi pengairan pertanian. Sebab, tidak semua petani mempunyai sumur tersebut. ‘’Kalau ada sumur sibel, dampaknya sumur kecil di permukiman warga akan susut,’’ ungkapnya. (mgc/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here