Dampak Kemarau di Tanjungsari-Soco Diwarnai Ironi

87
MERTANA: Gagal penen akibat kekurangan air, sejumlah petani memilih membabat padinya yang mengering untuk pakan ternak.

NGAWI – Ada ironi di balik fenomena kekeringan yang melanda puluhan hektare padi di Desa Tanjungsari dan Soco, Jogorogo. Di tengah fakta mengeringnya hamparan padi di dua desa itu, ribuan liter air dari sumber di wilayah kecamatan setempat dikirim ke luar daerah.

Ironisnya, antara terminal pengisian air dan irigasi utama lahan pertanian bergantung pada sumber yang sama. ‘’Sungai untuk irigasi di sini dari sumber Trongol, Jogorogo, lereng Lawu sana,’’ kata Supatmi, salah seorang petani, Selasa (18/6).

Akibat terdampak kemarau, seperempat hektare lahan padi milik warga Tanjungsari itu sama sekali tidak panen lantaran keburu mati kekurangan air. Tak hanya gagal panen, biaya tanam sekitar Rp 1,5 dipastikan hilang.

‘’Sudah dua kali, tapi kali ini lebih parah. Kemarau sebelumnya masih bisa bawa gabah meski hanya setengah sak. Normalnya bisa panen dua ton,’’ ungkapnya. ‘’Kalau yang masih ada ijo-ijo-nya itu karena pemilik mengairi sawahnya dengan membeli air tangki. Tapi, tidak tahu juga nanti panen atau tidak,’’ imbuhnya.

Supatmi mengatakan, irigasi mulai benar-benar mandek sejak awal Ramadan lalu. Pun, berbagai upaya yang dilakukan untuk mendapatkan air tidak membuahkan hasil. Sungai desa setempat sebagai sumber utama irigasi lahan pertanian sama sekali tidak menyisakan air.

Menurut Supatmi, kondisi sungai yang kering kerontang itu merupakan dampak keberadaan terminal pengisian air di Desa Gentong, Paron. ‘’Sumber airnya sama, air sungai di sini juga dari sumber Trongol,’’ ungkap perempuan parobaya tersebut.

Berbeda dengan Giyono, petani Desa Soco. Dia enggan menyebut terminal pengisian air Gentong sebagai biang kekeringan. ‘’Pengaruh jelas ada karena dari sumber air yang sama. Mungkin juga petani di daerah atas seenaknya sendiri pakai air, jadi yang bawah tidak kebagian,’’ ujarnya.

Tedy Yulianto, petugas terminal pengisian air Gentong, mengamini bahwa air yang disedot berasal dari sumber Trongol. Terminal pengisian air di bawah naungan PDAM Ngawi itu sudah sekitar lima tahun beroperasi. ‘’Pasokan air mulai mengecil sejak pertengahan puasa. Biasanya empat corong pengisian jalan semua, sekarang tinggal dua yang bisa dihidupkan,’’ sebutnya.

Dia menjelaskan, tak kurang dari 135 mobil tangki melakukan pengisian di terminal pengisian ari Gentong saat pasokan air normal. Namun, belakangan ini berkurang menjadi 100-an per hari lantaran pasokan air dari sumber menurun. ‘’Rp 35 ribu per tangki,’’ kata warga Kedunggalar tersebut.

Sementara itu, Trianto, salah seorang sopir mobil tangki, mengatakan bahwa sebagian air dikirim ke luar daerah seperti Blora, Cepu, Bojonegoro, Randublatung, Madiun, Ponorogo, Blitar, dan Tuban. ‘’Beda-beda bosnya,’’ ujarnya. (den/isd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here