Pacitan

Dampak Gesekan Warga Cokrokembang dan PT GLI Puluhan Pekerja Tambang Nganggur

PACITAN, Jawa Pos Radar Pacitan – Efek domino berlarut-larutnya gesekan antara warga Desa Cokrokembang, Ngadirojo, dengan perusahaan pertambangan PT Gemilang Limpah Internusa (GLI) kian melebar. Puluhan warga Desa Kluwih, Tulakan, terdampak langsung masalah tersebut.

Mereka yang sehari-hari bekerja mengeruk isi perut bumi untuk perusahaan dengan investor asing itu harus menganggur. ‘’Kurang lebih sudah tiga bulan tambang ditutup,’’ kata Kateni, salah seorang warga Desa Kluwih pekerja PT GLI, Selasa (3/12).

Kateni menyebut, ada sekitar 70 warga di desanya yang bekerja di PT GLI. Dia dan pekerja lain tidak bisa berbuat banyak menyusul penutupan perusahaan tempat mereka mengais nafkah. ‘’Ya nganggur, cari pekerjaan seadaanya sementara ini,’’ ujarnya.

Sebelumnya, Kateni bekerja sebagai penggali terowongan tambang. Upah yang didapat bisa tembus Rp 2 juta per dua pekan. Meski harus bertaruh nyawa, Kateni bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Namun, tiga bulan terakhir kantongnya kosong tanpa pemasukan. ‘’Penginnya bisa bekerja lagi,’’ ucapnya.

Kateni dan sejawatnya hanya bisa menunggu tambang beroperasi lagi. Sementara, polemik antara warga Desa Cokrokembang dan PT GLI tak kunjung selesai hingga kini. Sehingga, Kateni pun berencana kembali ke pekerjaan lamanya. ‘’Kalau ditutup terus, rencana mau merantau lagi,’’ tuturnya.

Solusi masalah kerusakan lahan warga Desa Cokrokembang akibat aktivitas pertambangan PT GLI belum ada perkembangan berarti. Kuasa hukum warga telah menyerahkan solusi alternatif baru kepada legal officer PT GLI Rabu pekan lalu (27/11). Pun disaksikan Sekdakab Pacitan Heru Wiwoho. Namun, belum ada tindak lanjut. ‘’Belum bisa didiskusikan itu (solusi alternatif, Red). Bos masih keluar kota,’’ kata Badrul Amali, legal officer PT GLI. (den/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close