Damai Paskah untuk Indonesia

48

MADIUN – Umat Katolik dan Kristiani bersuka cita siap menyambut misa tirakatan malam paskah. Pertama dimulai hari ini, pukul 16.00 berlanjut hari kedua, Minggu (21/4) pukul 21.00. Misa malam paskah terdiri dari empat upacara liturgi. Pertama adalah liturgi cahaya dengan perarakan lilin paskah. Kedua, liturgi sabda dengan minimal lima bacaan. Tiga, liturgi baptis yakni upacara pembaptisan. ’’Empat liturgi komuni,’’ kata Romo Boedi Prasetijo ditemui Radar Madiun kemarin (19/4).

Lanjutnya, misteri yang dirayakan umat adalah kebangkitan Kristus. Selama 40 hari di masa pra paskah yuang dimulai Rabu Abu atau masa perobatan. Juga masa pantang dan puasa.  Di masa ini, umat katolik tidak diperbolehkan untuk menyerukan Alleluya dalam doa-doa maupun nyanyian. ’’Pada malam paskah besok malam (hari ini, Red), umat baru diajak untuk menyerukan Allelyuya panjang sebelum bacaan Injil,’’ jelasnya.

Setelah ini, kata dia, pemakaian Alleluya menjadi suatu kewajiban di masa paskah. Nah, tibalah di hari Minggu mendatang (21/4) pukul 08.00 ada misa paskah bersama anak-anak dari SDK Santo Bernardus. Uniknya, di Misa Minggu Paskah ini petugas liturginya yang terdiri dari pelajar SD ini akan memakai pakaian Bhineka Tunggal Ika karena bersamaan dengan peringatan Hari Kartini.

Lanjutnya, yang perlu menjadi renungan adalah makna dari telur paskah sebagai lambang hidup baru dalam Kristus Alleluya. Akan ada 44 calon baptisan. Dibagi dalam dua misa. Masing-masing ada 22 orang yang akan menerima pembaptisan.

Rencananya, dalam khotbah nanti Boedi akan menghubungkan dengan cita-cita Raden Ajeng Kartini. Di matanya, pesta paskah, pesta habislah gelap (kematian Tuhan) terbitlah terang (kebangkitan Tuhan Yesus Kristus). Dimana persekutuan murid kristus yang bersaksi.

’’Segenap umat Katolik dan juga anak-anak Katolik hendaknya siap mewartakan wafat dan kebangkitan Tuhan kepada masyarakat dan teman-teman. Kita dipangil untuk membawa Terang Tuhan yakni cinta kasih dan damai Tuhan kepada mereka yang hidup dalam “kegelapan” yakni hidup dosa, hidup dalam penderitaan, kesusahan dan mungkin “perang” dan perselisihan,’’ jelasnya.

‘’Dalam ibadat Jumat Agung tadi (kemarin) di Stasi Jenangan saya angkat peristiwa perjumpaan Paus Fransiskus dengan pemimpin negara Sudan. Saat Bapa Suci Sri Paus meminta mereka berdamai dan mengakhiri perang,’’ imbuhnya. (dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here