Dahaga Menang Persis Makin Panjang, Pengadil Lapangan Jadi Sasaran Amuk

40
TENSI TINGGI: Winger Persis Hapidin (merah) terlibat adu mulut dengan pemain tengah Madura Fc, Bakori Andreas.

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kekecewaan berkecamuk di dada para suporter Persis Solo setelah tim kesayangannya ditahan imbang Madura FC tanpa gol di Stadion Wilis Rabu sore (18/9). Mereka menuding kepemimpinan wasit Bardan Landihae sebagai penyebab gagalnya Persis memetik poin penuh di kandang.

Puncaknya setelah laga bubar, suporter dari tribun timur menyerbu wasit asal Kalbar tersebut ke tengah lapangan. Begitu juga dengan para pemain Persis. Mereka memprotes kinerja pengadil lapangan itu yang dianggap sering membuat keputusan berat sebelah.

Sukarjo, inspektur wasit dari Jabar yang semula berada di sisi lapangan, langsung menghampiri Bardan. Dia coba memberikan penjelasan bahwa pertandingan telah usai dan manajemen Persis bisa melancarkan protes secara resmi ke PSSI jika menilai kepemimpinan Bardan tidak adil.

Pernyataan itu ternyata tidak membuat lega sebagian penonton dan pemain. Nah, ketika Bardan akan memasuki ruang ganti dengan kawalan dari pihak kepolisian, suporter Persis yang berada di tribun VIP sempat melemparinya dengan botol air mineral. Serta melayangkan berbagai umpatan kepada Bardan.

Situasi itu berangsur kondusif setelah pihak kepolisian menertibkan para suporter. Mereka diminta untuk segera keluar dari stadion dan kembali ke Solo. Kejadian tersebut memang bukan kali pertama dilakukan oleh kelompok suporter Persis Solo ketika ber-home base di Kota Madiun.

Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Madiun, sudah kesekian kali aksi semacam itu terjadi. Puncaknya saat melakoni derby Mataram melawan PSIM Jogjakarta pada 16 Agustus lalu. Ketika itu suporter merangsek ke lapangan dan meneror pemain PSIM. Bahkan, menyalakan petasan di belakang tiang gawang sisi selatan serta terlibat aksi pemukulan terhadap wartawan BBS Tv.

Aksi tersebut akhirnya berujung sanksi dari PSSI. Suporter Persis dihukum larangan menonton tim kesayangannya di kandang selama satu pertandingan. Meski demikian, Pelatih Persis Solo Choirul Huda menanggapi dingin kepemimpinan wasit Bardan Landihae saat melawan Madura Fc. ‘’Biarkan publik yang menilai. Karena kalau saya yang menilai, nggak ada manfaatnya,’’ ujarnya.

Yang jelas, hasil imbang itu tentu makin memberatkan langkah tim berjuluk Laskar Sambernyawa tersebut lolos ke babak 8 besar sekaligus menjaga asa promosi ke Liga 1. Saat ini, posisi mereka melorot ke peringkat kelima klasemen wilayah timur dengan koleksi 21 poin. Terpaut lima poin dari pemuncak klasemen sementara, Mitra Kukar.

Coach Choirul mengaku tidak habis pikir dengan hasil minor yang terus berulang didapat timnya tersebut. Termasuk ketika menghadapi Madura Fc kemarin sore. Dia berdalih ada ketidaksesuaian antara strategi dan cara bermain para pemain di atas lapangan pada babak pertama. Pola permainan Persis baru berkembang pascaturun minum.

Budi Ugik Sugiyanto dkk tampil penuh determinasi dan menghasilkan banyak peluang. Sayangnya tidak ada satu pun peluang yang dapat dikonversikan menjadi gol. ‘’Saya melihat (pertandingan) ini, kami merasa kurang beruntung,’’ ujar Cak Irul, sapaan coach Choirul Huda.

Tak hanya memperberat jalan Persis lolos ke putaran selanjutnya, hasil minor yang diraih secara beruntun tersebut juga membuat posisi Choirul Huda sebagai pelatih tersudut. ‘’Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada suporter dan masyarakat Solo,’’ ucapnya. (her/c1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here