CPNSPonorogo

CPNS Ponorogo: 16 Formasi Ini Nihil Pelamar

PONOROGO – Selesai sudah masa pendaftaran rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS) Pemkab Ponorogo. Hingga ditutup Senin tengah malam lalu (15/10), tercatat 6.336 pelamar. Sekitar 50 persen mengincar 172 formasi guru mata pelajaran dan guru kelas sekolah dasar (SD). Sisanya melamar formasi tenaga kesehatan dan teknis.

Kendati demikian, tidak semua formasi CPNS yang dibuka diminati. Khususnya, dokter spesialis. Dari 14 lowongan, hanya dua formasi yang terisi. Yakni, dokter spesialis urologi dan spesialis konservasi gigi. ‘’12 formasi dokter spesialis lainnya kosong (tanpa pelamar, Red),’’ kata Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPPD) Ponorogo Winarko Arief Tjahjono kemarin (17/10).

Adapun formasi dokter spesialis nol pelamar adalah spesialis ilmu kesehatan anak, bedah mulut, bedah umum, bedah syaraf, kebidanan dan penyakit kandungan, mata, paru-paru, penyakit dalam, radiologi, rehabilitasi medik, serta THT. Selain itu, 17 formasi untuk lulusan berpredikat cum laude terisi semua. ‘’Dari jatah 17 hanya 15 orang yang mendaftar,’’ rinci Winarko.

Dua formasi lulusan berpredikat cum laude yang tidak ada pendaftarnya adalah dokter umum dan guru di SDN 1 Tanjunggunung, Badegan. Kondisi serupa juga terjadi pada formasi untuk disabilitas. Dari empat formasi yang tersedia, yang mendaftar hanya dua orang. ‘’Untuk pelamar disabilitas, kami arahkan pada formasi pengelolaan database,’’ jelasnya.

Winarko menambahkan, berkas administrasi pelamar yang sudah masuk akan diverifikasi. Hasilnya akan diumumkan Minggu mendatang (21/10). Sedangkan, terkait jadwal pelaksanaan tes pihaknya belum bisa memastikan lantaran masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat. ‘’Kami belum tahu. Karena kami juga masih menunggu hasil pengumuman dulu,’’ terangnya.

Setelah itu, dilihat berapa jumlah pendaftar yang lulus verifikasi administrasi. Berdasar jumlah pendaftar yang diumumkan di provinsi Selasa lalu (16/10), menurut Winarko, pelamar CPNS Ponorogo paling banyak. ‘’Baru nanti kami menyusun rencana tesnya. Soalnya, masing-masing daerah berbeda,’’ ujar Winarko.

Sebelumnya, Sekdakab Ponorogo Agus Pramono menjelaskan total ada 16 formasi tanpa pendaftar. Terdiri dari 12 formasi dokter spesialis, dua formasi untuk penyandang difabel, serta masing-masing satu formasi untuk guru kelas cum laude dan dokter umum cum laude.

Dia menduga tidak adanya pendaftar itu karena faktor nonteknis. Formasi dokter spesialis, misalnya. Terbentur ketentuan usia yang dipersyaratkan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Batas usia lulusan dokter spesialis 35 tahun. Sementara mayoritas dokter yang telah menempuh pendidikan spesialis rata-rata berusia 36–37 tahun. ‘’Kami sudah bersurat ke BKN soal ini. Tapi belum ada jawaban,’’ katanya.

Agus Pram berpendapat ada kemungkinan pemerintah pusat menganggap studi kedokteran tersebut sama dengan studi strata 1 (S-1). Padahal, menurut dia, warga Ponorogo yang fokus pada spesialisasi di sejumlah formasi itu ada. Hanya, usianya rata-rata di atas 35 tahun. ‘’Ini yang sedang kami harapkan ada solusinya dari pemerintah pusat,’’ ujarnya. (her/c1/sat)

 

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close