Bupati Menulis

Covid-19 dan Gotong Royong

BUNG Karno sebagai founding father pernah mengatakan dalam pidato sidang pertama BPUPKI yang berlangsung 29 Mei-1 Juni 1945: negara yang akan berdiri harus mempunyai dasar-dasar negara. Pidato yang disampaikan Bung Karno itu sebenarnya banyak menanggapi dari pembicara terdahulu, sekaligus mengemukakan konsep bernegara menurut pandangannya.

Salah satu bagian pidato yang diucapkan tepat tanggal 1 Juni 1945 itu sebagai berikut: ”….Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: socio-nationalisme, socio-democratie, dan ke-Tuhanan. Kalau tuan senang kepada simbolik tiga, ambilah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada Tri Sila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah itu?

Seperti yang telah saya katakan, kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia. Tetapi Indonesia buat Indonesia!—Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong royong.” Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negera gotong royong! Alangkah hebatnya! Negara gotong royong! (tepuk tangan riuh-rendah)

Gotong-royong adalah paham dinamis, lebih dinamis dari paham kekeluargaan, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah paham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan suatu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo: satu karya, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karya, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! (lihat Naskah Persiapan UUD 1945 jilid I karya Prof Mr H Muh. Yamin hal 79).

Dalam buku Prof Muh Yamin tersebut, betapa setiap Bung Karno memberi jeda dalam setiap pidato utamanya yang menyangkut dasar negara diikuti dengan tepuk tangan yang riuh-rendah. Dan sengaja saya mengutip agak panjang pidato tersebut agar kita mengingat kembali cita-cita para pendiri bangsa ini, bagaimana dasar negara sebagai pondasi yang harus dibangun.

Tentu pemikiran Bung Karno tentang dasar negara tersebut dari perenungan yang sangat dalam. Tak salah kalau kemudian ada seorang ahli mengatakan pemikiran dan sikap seseorang itu salah satunya sangat dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya. Bagaimana latar belakang dan perjalanan hidup Bung Karno tentu sangat mempengaruhi cara pandang tersebut dan bagaimana bangsa ini kelak dibangun.

Nilai gotong royong yang memang hakiki budaya kita tumbuh subur ketika itu. Bagaimana masyarakat bergotong royong membangun jalan. Bagaimana masyarakat bergotong royong membangun rumah. Bagaimana masyarakat bergotong royong membangun sekolah. Bagaimana masyarakat bergotong royong membangun tempat ibadah. Banyak sekali kegiatan gotong royong untuk menyelesaikan kepentingan bersama.

Saya masih ingat ketika distrik kami di Maopati akan membangun sekolah. Karena anggaran pemerintah yang sangat terbatas, sedang sekolah SMP negeri waktu itu satu-satunya ada di ibu kota Kabupaten Magetan, maka masyarakat berinisiatif membangun sekolah. Mulai dari tanah dan bangunan adalah swadaya masyarakat. Saya yakin pemikiran waktu itu agar anak-cucunya kelak dapat memperoleh pendidikan yang memadai. Setelah jadi, kemudian dinegerikan. Dan semua asset diserahkan kepada pemerintah.

Demikian juga ketika di sekolah dasar saya di desa waktu itu, ketika akan menambah ruang kelas. Gotong royong warga desa muncul melalui musyawarah. Yang punya uang menyumbang uang. Yang punya pasir menyumbang pasir. Dan yang tidak bisa menyumbang dalam bentuk materiil, menyumbang tenaga kerja dengan tidak diupah. Namun dalam bekerja diatur bergiliran, sehingga masyarakat yang menyumbang tenaga bisa tetap bekerja mencari nafkah.

Ketika saya masih kuliah di Fakultas Sospol UGM, saat menerima mata kuliah pengantar sosiologi yang diampu oleh Prof Soedjito, SH, MA, beliau dalam kuliahnya menyampaikan mengapa di masyarakat desa ada gotong royong dalam bentuk pertukaran tenaga kerja. Misal menanam padi, panen padi, mendirikan rumah, menjaga kampung, dan sebagainya. Tentu pertanyaan tersebut tidak ada satupun yang bisa menjawab dengan tepat. Maklum karena semua masih mahasiswa baru. baru lulus dari bangku sekolah menengah atas.

Jawaban beliau kemudian, adanya gotong royong utamanya di desa dengan pertukaran tenaga tersebut karena di masyarakat masih sedikit uang yang beredar di masyarakat. Oleh sebab itu, di desa wujud gotong royong dalam bentuk pertukaran tenaga. Kalau ada misalnya mendirikan rumah bergotong-royong dengan menyumbangkan tenaga. Demikian juga sebaliknya bila yang lain akan dibantu yang lain.

Ketika kehidupan semakin modern dan kompleks gotong royong apa masih ada. Saya kira tetap ada. Hanya bentuknya yang berbeda. Ambil contoh, kalai kita hidup di komplek perumahan tidak perlu lagi ikut ronda di kompleks, tetapi membayar satpam. Bentuk gotong royongnya adalah iuran tadi untuk kepentingan bersama. Demikian juga ketika terjadi musibah saling membantu ikut menjadi donator misalnya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah nilai gotong royong itu saat ini menjadi hilang. Kalau menurut hemat saya, bukan hilang akan tetapi mulai tereduksi. Kita masih ingat ketika virus galur baru Covid-19 mulai merebak di Indonesia, dan banyak dibutuhkan masker justru masker hilang dari pasar. Kalau ada harganya sangat melambung tinggi. Harga masker normal Rp 5.000 dapat tiga masker, menjadi Rp 20 ribu hanya satu masker.

Bagaimana mungkin bangsa yang sedang dirundung masalah kesehatan ini masih ada segelintir oknum yang memanfaatkan kesulitan dan maaf kepanikan masyarakat saat itu. Mestinya kita malu dari negara lain yang justru memberikan gratis masker kepada siapa yang membutuhkan. Dan itu dilakukan oleh para felantropis maupun relawan kemanusian lainnya. Dan saya yakin negara dan masyarakat tersebut tidak tersurat mempunyai dasar negara dengan nilai gotong royong. Namun mengimplementasikan nilai tersebut dalam tindakan yang nyata.

Namun kita juga beruntung tidak larut terlalu dalam, orang lain mengambil keuntungan ketika kita bersama menghadapi masalah. Kesadaran dan nilai gotong royong itu muncul kembali. Dalam berbagai bentuknya. Baik berupa sumbangan kepada petugas kesehatan dalam bentuk masker, APD, obat, dan sebagainya. Demikian juga kepada masyarakat muncul kesadaran untuk saling berbagi dengan sumbangan dalam bentuk sembako dan lainnya.

Hal demikian juga terjadi di Magetan. Munculnya kesadaran secara bergotong royong untuk saling membantu dengan cara berbagi dengan ikut meringankan beban yang sangat rentan terhadap Covid-19 ini. Yang paling baru selain bantuan sembako adalah bentuk “Warung Gotong-royong.” Warung ini diinisiasi oleh warga Magetan di perantuan yang ingin menyumbang dan sekaligus meringankan beban masyarakat dengan adanya Covid-19 ini.

Inisiatornya para senior yang banyak berdomisili di Jakarta dan juga kota lainnya di antaranya Mas Agus Rahardjo (mantan ketua KPK) dkk. Bentuk warungnya yaitu menyediakan tempat untuk menaruh bahan pangan yang diperlukan masyarakat dengan cara mencantelkan. Masyarakat yang membutuhkan dapat langsung mengambil. Diharapkan yang menyumbang atau mengisi tidak hanya para donatur di perantuan, namun juga warga Magetan yang mempunyai rezeki lebih bisa ikut menaruh bahan pangan yang diperlukan.

Dengan adanya Warung Gotong-royong tersebut sedikit banyak semakin menguatkan kita bahwa nilai dasar gotong royong di negeri ini tidak hilang. Dan saya yakin pendiri bangsa di alam sana tersenyum melihat apa yang ditanamkan tetap dilajutkan oleh generasi berikutnya. Terima kasih bapak/ibu/mas/adik berbagai bentuk bantuannya, kalau boleh kami mewakili atas nama masyarakat Magetan. (*)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close