Cinta Terpaut di Perlintasan Tong Setan

60

CINTA Octo Alamsyah Nasution dan Febi Wulandari Saputri terpaut di lintasan tong setan. Dari lintasan miring 90 derajat itu, kedua joki beda usia sepuluh tahunan ini akhirnya mengikat janji suci pernikahan. Berdua, mengisi hari-hari keliling kota antar pulau di setiap pasar malam.

Pasutri ini sepakat berbulan madu di pasar rakyat. Di usia pernikahan yang baru genap dua bulan 22 Mei lusa nanti, keduanya sudah main dua tempat di Magetan. Jauh-jauh dari Sumatera Utara, keduanya dikontrak sebagai rider tong setan selama tiga bulan sejak April hingga Juni mendatang. Pun harus merelakan berlebaran di lintasan tong setan. ‘’Tidak apa-apa. Sudah pilihan hidup kami,’’ ujar Febi Wulandari Saputri, 18.

Baru setahun perempuan asal Perbaung, Sumut itu menjadi joki tong setan. Beda dengan suaminya yang sudah lima tahunan. Keduanya dipertemukan ketika Octo yang berasal Pemantangsiantar, Sumut, itu main di Perbaung, setahun lalu. Akan tetapi, bukan karena bujukan calon suami yang membuat Febi memutuskan menjadi joki. Hobi memacu adrenalin itu tumbuh dari niatannya sendiri. ‘’Tidak ada hubungannya dengan dia (Octo). Kenalannya malah ketika saya sudah mulai belajar,’’ katanya sedikit tersipu.

Bila suaminya butuh waktu hingga sebulan untuk memberanikan pentas, Febi dua pekan lebih cepat. Meski pernah pingsan karena tidak kuat menahan pusing. Dia pun tidak tahu rahasia sanggup cepat menguasai motor yang tidak dilengkapi rem tersebut. Kecuali setiap hari berlatih. Pengalamannya sebagai joki balap liar disebut sebagai faktor utama mempunyai keberanian. ‘’Intinya nyali dan latihan,’’ tegas joki yang sudah lima kali terjatuh saat pertunjukkan.

Orang tua mana yang tidak khawatir kala mengetahui anaknya punya pekerjaan berisiko tinggi seperti itu. Itu pula yang membuat orang tua Febi awalnya tidak memberikan restu. Sempat dimarahi habis-habisan. ‘’Jadi ada orang yang ngelapor dan nunjukin videonya. Langsung saja, mereka datang ke pasar malam dan memarahi saya,’’ ujarnya.

Namun, penolakan tidak berlarut panjang. Orang tua memberikan lampu hijau karena menyadari bahwa pekerjaan itu sebagai pilihan hidup Febi. Pun ketika memberikan restu menikah dengan Octo. ‘’Kemungkinan terus menggeluti dunia tong setan,’’ imbuh perempuan yang memutuskan berhenti di kelas XI SMA karena urusan administrasi pindah sekolah.

Sementara, Octo sudah tujuh kali terjatuh dan bertabrakan dengan joki lainnya. Paling parah adalah insiden ban motornya bocor. Akibat kejadian itu, pundak kanan dan rusuk kanannya patah. Tapi, pria yang dulunya anggota komunitas anak punk ini tidak kapok. Dia enggan kembali menjalankan usaha sablon kaus dan piercing. ‘’Juga ada penolakan dari orang tua. Tapi, bekerja sebagai joki tong setan sudah menjadi bagian jiwa saya,’’ papar sang suami.

Rider 28 tahun itu langsung kesengsem tong setan saat pertamakalinya diajak menjaga wahana pasar malam di tempat tinggalnya. Di hari pertama bekerja, dia langsung kesengsem tong setan. Penasaran bagaimana bisa motor melaju di dinding miring. Apalagi, pengendaranya sanggup mempertontonkan gerakan akrobatik yang membuat para penonton berdecak kagum. ‘’Saya nekat ingin belajar. Latihan terus setiap hari selama satu bulan,’’ ungkapnya.

Octo tidak memungkiri betapa sulitnya mengendarai motor di dinding dengan kemiringan mencapai 90-100 derajat. Kali pertama yang dipelajari dan paling sulit adalah menjaga keseimbangan. Awalnya menggunakan sepeda agar dampak ketika terjatuh tidak terlalu fatal. Selain menjaga keseimbangan, pria berambut ikal ini juga belajar cara menghilangkan pusing setelah berputar-putar. Prosesnya selama sebulan sebelum dia memberanikan diri melakukan pertunjukkan.

Di dunia tong setan, ukuran yang dipakai adalah sebutan papan 12, 14, 16, dan 20 yang memakai plat bordes atau kayu. Intinya, semakin kecil angka, semakin sempit dan kecil pula track-nya. Untuk papan 14, misalnya, diamater dan ketinggiannya sekitar lima meter. Ketentuan tersebut berbeda antara satu pengelola pasar malam dengan lainnya. ‘’Berapa pun ukurannya, bukan kendala. Yang penting terus latihan dan punya nyali,’’ kata Octo.

Selama enam tahun, Octo mampu menguasai empat gerakan akrobatik di atas motor. Mulai lepas tangan, berdiri tegap, duduk menyamping, dan tidur di jok motor. Atraksi dipertontonkan ketika pengunjung ramai. Sebagai bentuk ucapan terima kasih. Selain kemampuan akrobatik, dia juga bisa menyetel sendiri mesin dan peranti lain motor tong setan. Salah satunya setting tuas gas yang diberi perekat khusus. Laju kecepatan di dalam tong sekitar 40 hingga 60 kilometer per jam. ‘’Kemungkinan segitu ya. Soalnya tidak ada speedometer,’’ selorohnya.

Tur pasar malam di Karesidenan Madiun menjadi pengalaman pertama Octo dan Febi. Bahkan, kali pertama menapaki Pulau Jawa. Khusus untuk Octo, sudah melanglang buana ke Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, dan Lampung. Banyaknya lokasi yang dikunjungi membuat relasinya dengan pengusaha pasar malam cukup banyak. Dia sering kali dikontrak untuk bermain. Selain mendapat upah, kebutuhan transportasi dan biaya tempat tinggal sudah dicukupi. ‘’Tiket pesawat dibelikan,’’ ujarnya.

Octo melihat perbedaan wahana tong setan antara Pulau Jawa dengan luar pada jumlah pengunjung dan jenis acara. Dia bisa delapan sampai 10 kali show dalam semalam di daerah Kalimantan. Selain karena permainan tong setan masih asing di mata warganya, acara pasar malam berlangsung saat peringatan hari jadi atau momentum lainnya. Sementara, selama dua pekan di Magetan dan Madiun, pengunjung banyak datang ketika akhir pekan. Kendati demikian, dia tidak kapok untuk kembali. ‘’Rezeki sudah ada yang mengatur,’’ ucapnya. (cor/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here