Christian Ade Candra, Sosok di Balik Kesuksesan Metro Production

31

BAGI Christian Ade Candra, menjaga komitmen itu penting. Itu pula yang mengantarkannya jadi salah satu owner event organizer kondang di Pacitan, Metro Production.

Semua berawal saat Pencrit -sapaan akrabnya- bekerja sebagai bekerja di dealer. Banyaknya event promosi membuatnya akrab dengan pengusaha EO. Saking akrabnya, adanya peralatan tenda yang dijual dari kenalan di Batu ditawarkan. ’’Harga Rp 50 juta katanya kemahalan dan disuruh menawar hingga Rp 15 juta,’’ ujarnya.

Ternyata suami dari Reni Sundari itu berhasil menawarnya. Sayangnya, teman akrab penyedia jasa EO tersebut tidak jadi membeli. Pencrit yang tidak enak hati mau tidak mau harus membelinya tahun 2009 lalu. ’’Karena saya harus jaga omongan, ada mobil Feroza saya jual untuk beli itu dengan konsekuensi teman saya siap bersaing,’’ tuturnya.

Tenda itupun langsung disewakan untuk pengajian di Pondok Pesantren Tremas. Operasionalnya dijalankan tenaga borongan. Perlahan pesanan tenda tersebut membeludak. Hingga akhirnya Pencrit yang menduduki jabatan manajer di dealernya itu menambah peralatan lain. Mulai sound system, dekor dan lainnya. Penyewanya makin membeludak mulai dari acara pernikahan hingga event-event lainnya. ’’Sampai saya resign dari dealer karena ingin konsen di usaha sendiri meski penghasilan sudah mencapai Rp 25 juta,’’ bebernya.

Pengalaman uniknya saat menerima bagi project kampanye akbar EO asal Jakarta. Pencrit hanya kebagian untuk penyediaan tenda tamu. Gara-gara perizinan, seluruh kegiatan harus bongkar pasang hingga kurang lebih empat kali dari stadion ke alun-alun, sebaliknya. EO utama bahkan menyerah. Hingga akhirnya seluruh kegiatan justru di tangani oleh EO milik Pencrit. ’’Acara jam 09.00, subuh mulai pasang-pasang lagi,’’ tambahnya.

Baginya kepuasan dan kepercayaan pelanggan diutamakan. Tidak jarang Pencrit rela rugi demi kepuasan pelanggannya. List kebutuhan sesuai pesanan dengan pertimbangan harga tidak jarang berubah. Pun ditambah. Itu jika dianggapnya kurang sedap dipandang. Baik bagi mata ataupun jepretan kamera. ’’ Meski begitu tetap saja punya pengalaman nggak kebayar,’’ tuturnya.(odi/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here