Chat WA Terakhir Alfi: Ingin Pulang, Kangen Masakan Orang Tua

315

MADIUN – Pramugari menjadi pilihan hidup Alfiani Hidayatul Solikah. Korban jatuhnya Lion Air JT 610 itu telah memantapkan tekadnya menjadi pelayan penumpang pesawat sejak SMA. Bujukan dan rayuan guru bimbingan konseling (BK) SMAN 1 Dolopo yang menyarankan Alfi -sapaan Alfiani Hidayatul Solikah- masuk perguruan tinggi ditolak mentah-mentah oleh gadis asal Desa Mojorejo, Kebonsari, tersebut. ’’Pramugari sudah menjadi harga mati bagi Alfi,’’ kata Khusnul Khotimah, guru bimbingan konseling (BK) SMAN 1 Dolopo, Rabu (31/10).

Khusnul menjadi jujukan Alfi berkonsultasi dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan dan pekerjaan setelah lulus. Dia sering menyarankan agar mencoba seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN). Namun, tidak sampai menentukan program studi dan universitasnya. Pilihan itu diserahkan sepenuhnya ke gadis yang kala itu duduk di kelas XII IPA 2 itu. Saran tersebut diberikan karena menyadari Alfi cakap dalam sejumlah mata pelajaran. Terutama bahasa Inggris. ‘’Dia kukuh melanjutkan di sekolah pramugari,’’ ujarnya kepada Radar Mejayan

Terlepas dari mengesampingkan saran, Khusnul meyakini Alfi bisa menggapai cita-citanya itu. Selain pintar bahasa Inggris, fisiknya memenuhi syarat pramugari dan memiliki sikap yang baik dalam keseharian. Bekal itu yang akhirnya membuat Alfi lolos seleksi sekolah pramugari di Jogjakarta. Bahkan, dia menempuh jalur khusus atau ekstensi ketika menimba ilmu. Putri semata wayang pasangan suami istri (pasutri) Slamet-Kartini itu akhirnya diterima bekerja di Lion Air. ’’Tentu keberhasilan itu datang dari keyakinan, dukungan kakak senior, dan orang tuanya,’’ tutur Khusnul.

Siti Nurjayanti, guru BK lainnya, mengungkapkan bahwa impian Alfi menjadi pramugari datang dari Maya Fatiyah, kakak kelasnya. Alumnus 2015/2016 itu mengenyam pendidikan yang sama dengan Alfi. Sebelum akhirnya diterima menjadi pramugari di Garuda Indonesia. ‘’Alfi punya banyak wawasan tentang pramugari ya dari Maya,’’ katanya sembari menyebut total ada delapan alumni yang menjadi pramugari sejak 2011.

Rindang Wahyu Wijayanti, wali kelas X Alfi, menyebut bahwa anak didiknya itu ingin menjadi guru bahasa Inggris seperti dirinya ketika masih kelas X. Namun berubah ketika sudah mau lulus. Perubahan impian itu karena terobsesi dengan Maya yang sudah lebih dulu bersekolah pramugari. Ketika mengenyam pendidikan, keduanya pun satu mes. ’’Juga satu kamar,’’ kata guru yang menjadi tempat keluh kesah Alfi sehari sebelum musibah terjadi.

Maya Fatiyah mengamini bahwa ketertarikan dunia pramugarilah yang membuat dirinya dengan Alfi akrab. Kisahnya bermula ketika dia sudah sekolah pramugari di Jogjakarta, adik kelasnya itu mengirimkan pesan WhatsApp (WA). Bertanya tentang seluk beluk tugas hingga hal teknis persyaratan menjadi pramugari. Komunikasi tersebut yang belakangan membuat keduanya semakin dekat. ‘’Menjadi pramugari datang dari niatannya (Alfi) sendiri,’’ katanya ketika dihubungi via telepon.

Saking dekatnya, Maya menganggap Alfi layaknya saudara. Gadis 21 tahun itu sangat terpukul kala mendengar kabar juniornya itu termasuk salah seorang korban jatuhnya pesawat di perairan Tanjung Karawang, Senin lalu (29/10). Warga Desa Sukorejo, Dolopo, itu mengenang bahwa Alfi ingin menjadi seperti dirinya bekerja di Garuda Indonesia. Namun, maskapai yang menerimanya adalah Lion Air. ‘’Saya berikan support untuk dijalani dulu. Ketika ada lowongan, dicoba kembali,’’ kenangnya menirukan yang diucapkan ke Alfi.

Sepekan sebelum kejadian, Maya dan Alfi masih berkomunikasi di WA. Gadis yang baru dua bulan bekerja menjadi pramugari itu mengaku rindu rumah. ’’Dia sudah capek, ingin pulang, kangen masakan orang tua,’’ ucapnya. (mgc/cor/c1/ota)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here