CFD Telah Beralih Fungsi Jadi Pasar Kaget

338

MADIUN – Keberadaan car free day (CFD) di Kota Madiun telah beralih fungsi. Kegiatan yang digelar tiap Minggu di Jalan Pahlawan itu kini mirip pasar kaget. Padahal, CFD digagas sebagai sarana sosialisasi kepada warga untuk menurunkan ketergantungan terhadap kendaraan bermotor.

Parahnya lagi, dua ruas jalur yang dipakai nyaris habis untuk lapak pedagang. Bahkan, hampir memenuhi badan jalan. Sementara untuk pejalan kaki hanya tersisa sekitar dua meter. Itu pun untuk dua lajur. Sehingga masyarakat yang ingin melakukan aktivitas, misalnya olahraga dan lainnya, kesulitan.

Wajar jika kondisi tersebut membuat pemkot uring-uringan. Pun barang dagangan yang dijual oleh pedagang dadakan itu tak jauh beda dengan di pasar tradisional. Tidak hanya pakaian dan kuliner. Tapi juga ada peralatan rumah tangga hingga tanaman.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Madiun Gaguk Hariyono tak menampik bahwa CFD kini sudah seperti pasar kaget. Bahkan, jumlah pedagangnya terus menjamur tanpa koordinasi dengan pemkot. ’’Untuk mengembalikan fungsi CFD seperti semula, tentu diperlukan koordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun kemarin (16/12).

Karena, menurut dia, bukan hanya dinas perdagangan yang mesti bertanggung jawab mengelola pedagang di CFD tersebut. Tapi, juga satpol PP untuk pengamanannya dan dinas lingkungan hidup (DLH) untuk penanganan masalah kebersihan. Serta dinas pendidikan (dindik) dan diskominfo yang berkewajiban mengisi kegiatan sosialisasi saat pelaksanaan CFD.

Selain itu, dinas perhubungan (dishub) dan dinas pendapatan daerah (dispenda) mempunyai tanggung jawab yang sama untuk mengelola kegiatan CFD itu ke depannya. Karena dishub berwenang atas pemanfaatan jalan dan pengaturan lalu lintas untuk kegiatan CFD. Sedangkan, dispenda terkait proses penarikan retribusi sampah. ’’Selama ini pedagang hanya dikenai retribusi kebersihan Rp 500,’’ ungkap Gaguk.

Hal senada diungkapkan Kasatpol PP Kota Madiun Sunardi Nurcahyono. Dia tak memungkiri jika saat ini CFD sudah berubah fungsi. Dari semula sebagai fasilitas masyarakat berolahraga menjadi pasar dadakan.

Namun, pihaknya mengaku tidak punya wewenang untuk menertibkannya. Sebab, sejak awal pihaknya hanya bertanggung jawab untuk pengamanan kegiatan CFD. Mulai pukul 05.30 sampai dengan 08.00. ’’Kalau untuk pembinaan menjadi wewenang dinas perdagangan,’’ katanya.

Verli Anggraeni, salah seorang pedagang di CFD, bahkan sempat menyebut di Jalan Pahlawan saat Minggu pagi berubah menjadi pasar tradisional baru. Karena hampir ada sekitar 300 pedagang lebih yang menjual berbagai macam produk mereka di sepanjang jalan protokol tersebut. Mulai depan Gereja Santo Cornelius hingga depan rumah dinas wali kota Madiun. ’’(Berjualan) di sini keuntungan yang didapat banyak,’’ ungkapnya.

Verli yang merupakan pedagang pakaian itu mengaku sudah berjualan di CFD sejak satu tahun terakhir. Selama berjualan di arena CFD tersebut biasanya dia ditarik retribusi kebersihan Rp 500. ‘’Nanti ada petugas pemkot yang keliling menarik retribusi terus ngasih karcis,’’ terang warga Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, itu.

Verli menambahkan, dengan hanya membayar retribusi Rp 500 untuk kebersihan, dia bisa bebas berjualan sampai CFD bubar. Dia juga memastikan pedagang CFD tidak tergabung dalam paguyuban apa pun. ’’Jadi, sistem yang diterapkan di CFD bagi pedagang adalah siapa yang cepat datang, dia yang dapat tempat. ‘’Yang jelas, di CFD belum ada paguyuban pedagangnya,’’ jelas pedagang CFD yang biasa mangkal di depan balai kota itu.

Selama berjualan di arena CFD, perempuan 28 tahun itu mengaku belum ada penataan lokasi. Kendati jumlah pedagang di CFD semakin banyak, dia tidak menyoal. ’’Justru ini bisa meningkatkan pendapatan (ekonomi) warga,’’ kata Verli. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here