Satu Lapak di CFD Dibanderol Rp 500 Ribu

96

MADIUN – Ada indikasi praktik jual-beli lapak di lokasi car free day (CFD) Jalan Pahlawan. Jawa Pos Radar Madiun menemukan dugaan praktik itu kemarin (7/4). Salah seorang pedagang CFD mengaku sudah membayar uang sebesar Rp 500 ribu kepada seorang oknum. Duit itu dipakai untuk menempati lahan yang letaknya persis di depan hotel Kartika Abadi.

Peristiwa itu terungkap ketika Ketua Komunitas Ikan Cupang Kota Madiun, Ovi Gustian Alif bersama sejumlah rekannya hendak membuka lapak CFD untuk aksi sosial. Yakni, bagi-bagi gratis ikan cupang pemakan jentik nyamuk. ’’Itu pertama kalinya saya memanfaatkan lapak CFD, tapi bukan untuk jualan,’’ kata Ovi saat ditemui Jawa Pos Radar Madiun.

Ovi sengaja datang ke Jalan Pahlawan sekitar pukul 04.30. Kala itu Jalan Pahlawan sebagian sudah ramai. Utamanya, di kawasan balai kota. Karena sudah ramai, Ovi memilih membuka lapak di depan hotel Kartika  Abadi tak jauh dari Jalan Sendang. ’’Saya datang kondisi masih kosong belum ada penjual saya buka spanduk komunitas dan terpasang,’’ jelasnya.

Selang 15 menit kemudian, pedagang CFD di area tersebut mulai berdatangan. Beberapa kali Ovie diminta geser dengan alasan lapak tersebut sudah ada yang menempati. Sampai akhirnya datang salah seorang penjual parfum merasa terusik, dan marah. Sempat terjadi perdebatan kecil diantara Ovi dengan pedagang tersebut. ’’Terus sama pedagang yang disebelahnya,katanya kalau saya mau buka lapak disini saya harus ngomong ke orang itu, dia nunjuk ke seseorang yang ada di seberang saya, tapi saya belum kesana dia nyamperin saya,’’ paparnya.

Ovi lantas menjelaskan tujuannya ke sosok bertubuh pendek dengan rambut gondrong sebahu. Kemudian, kata dia, orang tersebut mengizinkan dengan catatan hanya boleh satu hari memanfaatkan lakasi tersebut. Merasa tidak terima, penjual parfum itu kembali marah. ’’Waktu marah itu dia ngomong kayak gini, mas aku wis bayar Rp 500.000 gae lapak iki. Nek koyok ngene iki urusanmu, intinya penjual parfum itu tetap nggak suka saya buka lapak disampingnya,’’ jelasnya.

’’Akhirnya saya pindah lagi, ada orang pakai kaus paguyuban yang akhirnya menolong saya mendapatkan tempat.  Jadi, 04.30 saya datang jam 06.30 saya baru dapat tempat nggak jauh di dekatnya RS DKT,’’ imbuh Ovi sembari berujar sosok pria yang dia temui sebelumnya tidak menggunakan kaus paguyuban.

Jawa Pos Radar Madiun berusaha meminta klarifikasi. Salah satunya datang dari Ketua Paguyuban CFD Sriani yang mengaku sudah kedua kalinya mendengar selentingan pungli lapak CFD. Keluhannya sama tentang adanya praktik jual-beli lapak CFD oleh oknum tertentu. Dia mendengar hal tersebut dari pihak luar, bukan pedagang CFD. ’’Justru saya dengar dari orang luar. Pedagang CFD nggk ada yang wadul ke saya,’’ paparnya.

Lanjutnya, kata dia, pemakaian lapak CFD itu gratis. Hanya bagi pedagang baru yang berniat jualan di CFD disarankan untuk menghubungi koordinator paguyuban. Ada empat koordinator pedagang CFD yang terbagi dalam empat wilayah. Jalan Jawa – Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan Kalimantan. Kemudian Jalan Kalimantan – Jalan Sulawesi dan terakhir Jalan Sulawesi – sampai tugu. Di antara wilayah tersebut, sebagian sudah padat. ‘’Yang agak longgar di Jalan Sulawesi. Jadi, kalau ada pedagang baru sebaiknya hubungi koordinator ini. Nanti, kordinator membantu mencarikan tempat yang kosong,’’ jelasnya.

Mendengar adanya praktik pungli ini, Sriani akan mengkomunikasikan dengan pengurus paguyuban. ’’Kami akan selidiki itu, terima kasih sudah mengkonfirmasi ini,’’ pungkasnya.(dil/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here