Cermat Berhitung Untung-Rugi Tol Trans-Jawa

235

MADIUN – Pembangunan tol Trans-Jawa memang tidak menyentuh wilayah Kota Madiun secara langsung. Namun, potensi yang bisa didapat dari pembangunan jalan tol tersebut coba dilirik oleh pemkot.

Wali Kota Madiun Sugeng Rismiyanto (SR) menyatakan, sebagai daerah transit, pemkot perlu mempersiapkan jaringan infrastruktur sebagai akses pendukung. Seperti pembangunan tempat penginapan atau hotel berbintang, penyediaan pusat perbelanjaan, tempat hiburan, kuliner, dan oleh-oleh. ’’Kesempatan ini yang akan kita ambil,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun kemarin (20/12).

Masuknya PT Sri Tanaya Megatama dari Semarang mengelola Plaza Lawu bisa menjadi jembatan awal untuk menarik investor lain di Kota Madiun pasca pengoperasian Tol Trans-Jawa. Belum lagi ditunjang dengan kehadiran salah satu jaringan bioskop CGV Cinema dan rencana pembangunan Hotel Ibis di Jalan H Agus Salim. ’’Mereka sudah menyelesaikan studi kelayakan. Kemudian proses menyelesaikan semua izin,’’ ujar SR.

Sementara, besaran nilai investasi yang bisa diperoleh dengan hadirnya hotel berbintang empat tersebut di Kota Madiun diperkirakan mencapai Rp 71 miliar. Lalu, peluang investasi yang bisa didapat oleh pemkot dari kehadiran Plaza Lawu mencapai Rp 60–70 miliar.

Sesuai data dari dinas penanaman modal pelayanan terpadu satu pintu (DPMPTSP), realisasi investasi di Kota Madiun sampai dengan triwulan III tahun 2018 mencapai Rp 605,9 miliar. Bidang usaha yang mendominasi dari investasi itu adalah perdagangan, rumah kos, dan konstruksi.

Sebelumnya, nilai investasi yang masuk ke Kota Madiun pada 2016 mencapai Rp 347 miliar. Kemudian, pada 2017 meningkat menjadi Rp 1,3 triliun. ’’Itu tak terlepas dari pembangunan jalan tol (Trans-Jawa),’’ tutur SR.

Kepala Kantor Wilayah Bank Indonesia (BI) Kediri Djoko Raharto mengungkapkan, berdasar survei BI, jalan tol menyumbang 0,9 persen pertumbuhan ekonomi Kota Madiun. ’’Itu hanya dari segi perdagangan, belum yang lain,’’ katanya pada Rabu lalu (19/12).

Selain itu, jalan tol menjadi tulang punggung (backbone) tata ruang sebuah wilayah. Pertumbuhan sebuah kawasan sering sekali mengikuti perkembangan konstruksi jalan tol. ‘’Fokus pengembangan perekonomian di Kota Madiun ada pada bidang perdagangan dan jasa. Karena kondisi wilayahnya tidak terlalu luas dan mayoritas berupa permukiman,’’ terangnya.

Karena itu, pihaknya mendorong agar Kota Madiun terus melakukan ekspansi kreatif. Mengingat keberadaan daerah tersebut didukung adanya stasiun besar, double track, dan Tol Trans-Jawa. Artinya, akses cukup mudah. ‘’Tapi, pertumbuhan investasi tidak hanya dipengaruhi pembangunan jalan tol. Kebijakan yang diterapkan oleh pemkot turut berpengaruh,’’ jelas Djoko. (her/c1/ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here