Cerita Warga Sewakan Kamar Kos Ilegal Tampung Karyawan Inka

135

MADIUN – Tidak sedikit warga Jalan Candi Sewu, Kelurahan Madiun Lor menyewakan lebih dari dua kamar kosong rumahnya untuk hunian sementara karyawan PT Inka. Perda 6/2007 tentang Izin Usaha Rumah Kos atau Pemondokan ditabrak.

Rumah Suhadi terpaut lima bangunan dari salah satu tempat kos di Jalan Candi Sewu, RT 11, RW 03, Kelurahan Madiun Lor, Manguharjo. Tidak ada papan penunjuk terima kos dari bagian depan bangunan yang halamannya muat untuk parkir satu mobil dan tidak lebih dari lima motor. Kendati demikian, empat kamar di bagian belakang rumah dua lantai itu silih berganti ditempati karyawan PT Inka sejak delapan tahun silam. ’’Hanya tempat tinggal biasa. Tidak bisa disebut rumah kos karena belum ada izinnya,’’ kata Suhadi, Rabu lalu (1/5).

Suhadi menyediakan empat kamar yang semuanya berada di lantai atas. Tiga kamar biasa dan satu berfasilitas kamar mandi dalam. Sebelum dimanfaatkan untuk umum pada 2011, kamar tersebut ditempati oleh tiga anaknya. Karena mereka sudah mentas dan memiliki rumah sendiri, kamar pun menjadi kosong. Niatan mengkomersialkan muncul begitu saja ketika mengetahui banyak karyawan Inka yang kesulitan mencari tempat tinggal. ’’Saat ini ada tiga yang ngekos yang semuanya kerja di Inka,’’ ungkap pria yang juga ketua RT 11 kelurahan setempat.

Langkah pensiunan karyawan Lapas Klas I Madiun itu menabrak Perda Kota Madiun 6/2007 tentang Izin Usaha Rumah Kos atau Pemondokan. Regulasi itu mewajibkan mengantongi izin dengan batas minimal dua kamar kos atau empat orang yang menghuni. Suhadi tidak sendirian. Setidaknya tiga rumah di tepi Jalan Candi Sewu menjalankan praktik serupa. Kamar kosong dimanfaatkan untuk orang-orang yang kehabisan kamar rumah kos resmi. ’’Ada tiga rumah kos resmi dengan puluhan kamar selalu terisi penuh di RT 11,’’ ujarnya sembari menyebut beberapa rumah di RT lainnya juga ada yang memfasilitasi kamar kos.

Suhadi memasang tarif sewa satu kamar Rp 300 ribu per bulan. Nilai yang diperkirakan tidak jauh berbeda dengan rumah kos tidak berizin yang tersebar di RT lainnya. Harga tersebut berbeda dengan rumah kos legal yang bisa mencapai Rp 600 ribu. Yang membuat lebih mahal selain karena ukuran kamar lebih luas, ada fasilitas kamar mandi dalam. Namun, beberapa kamar usaha resmi ada yang ditempati lebih dari dua orang. ’’Ya, lumayan buat tambah bayar listrik,’’ katanya.

Sebagai pemberi fasilitas tempat tinggal pekerja Inka, Suhadi pun gusar atas rencana pemindahan separo dari total pekerja perusahaan sepur itu ke Banyuwangi. Pemasukan tentu berdampak terutama yang memiliki banyak kamar. Sebab selama ini aktivitas keluar masuk karyawan yang ngekos layaknya roda berputar. Ketika ada anak kos keluar, tidak butuh waktu lama terisi kembali. Kecenderungannya, anak baru tersebut adalah kawan dari anak kos yang lama. Jangka waktu ngekos rata-rata berlangsung setahun hingga dua tahun. ’’Di tempat saya banyak yang bujang,’’ paparnya. *****(ota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here