Pacitan

Cegah Aksi Perundungan pada Peserta Didik Baru, MPLS Tak Libatkan Kakak Kelas

PACITAN – Para peserta didik baru tahun pelajaran 2019-2020 mulai melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) Senin (15/7). Sistemnya berbeda dengan masa orientasi sekolah (MOS) tahun sebelumnya yang menempatkan siswa atau kakak kelas sebagai koordintor kegiatan.

Sedangkan MPLS kali ini melibatkan para pengajar untuk mengisi masa orientasi. ‘’Asal pengawasannya ketat, saya nilai bagus-bagus saja,’’ kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKB-PPPA) Pacitan Tri Hariadi Hendra Purwaka Senin (15/7).

Hendra menekankan, peraturan yang jelas serta diberlakukan terperinci harus diterapkan pihak sekolah. Itu untuk menekan kasus perundungan yang rentan terjadi selama MPLS. Selain peraturan umum, sanksi pun harus disiapkan. Dia berharap ada evaluasi untuk memperbaiki sistem pengenalan sekolah. ‘’Harus ada SOP (standard operating procedure, Red)-nya. Jika itu bisa dilaksanakan, saya yakin gak ada bullying,’’ ujarnya.

Dia menilai masa orientasi atau pengenalan sekolah penting bagi peserta didik baru. Pasalnya, beda jenjang pendidikan terdapat peraturan berbeda pula. Dalam masa tersebut siswa wajib mendapat pembekalan kondisi sekolah, guru, hingga teman mereka. ‘’Bayangkan jika dulu SMP sekarang SMA, tapi gak kenal sekolah dan gurunya,’’ tutur Hendra.

David, salah seorang wali murid, berharap dengan konsep MPLS tak ada perundungan pada siswa baru. Dia tidak ingin muncul aksi senioritas seperti pada MOS beberapa tahun silam. Pun berharap wali kelas dan guru memperhatikan siswa. Itu untuk mempermudah wali murid berkomunikasi tentang perkembangan anaknya di sekolah. ‘’Kalau tahu kegiatan sekolah dan kondisi mereka, orang tua lebih nyaman,’’ katanya selepas mengantar sekolah putranya Senin (15/7).

Pantauan Radar Pacitan, di beberapa sekolah tampak ramai para orang tua siswa mengantar putra-putrinya pada hari pertama sekolah kemarin. Beberapa di antaranya bahkan rela menunggu berjam-jam hingga bel pelajaran usai. Tak hanya di taman kanak-kanak (TK), kondisi serupa juga terlihat di SD dan SMP. (gen/c1/sat)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close