Cari Solusi Selamatkan PMI, Bupati Panggil Direktur RSUD dr Sayidiman

140

MAGETAN – Kabar PMI Magetan terancam bangkrut sampai juga ke telinga Bupati Suprawoto. Mantan sekjen Kementerian Kominfo itu berniat mencari tahu akar permasalahan yang mengakibatkan tingginya beban biaya operasional PMI sehingga terancam gulung tikar. ‘’Kami akan mengurai persoalannya,’’ kata Suprawoto.

Sebenarnya pemkab sudah mengucurkan dana hibah untuk operasional PMI Magetan tiap tahun. Nilainya Rp 100 juta. Hanya, belakangan dana sebesar itu dianggap kurang cukup. Karena antara jumlah darah yang keluar terjual dan masuk dari pendonor tidak seimbang.

Suprawoto mengaku bakal mencari solusi untuk menyelamatkan PMI Magetan. Tapi, opsi yang ditempuh bukan menaikkan dana hibah ke organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan tersebut. Sebab, setahu dia, selain dari pemkab sumber pembiayaan yang masuk juga berasal dari sejumlah pihak. ‘’Tapi, jika itu semua masih kurang, memang harus ada upaya untuk menyelamatkan PMI (dari ancaman bangkrut, Red),’’ ujar bupati yang akrab disapa Kang Woto itu.

Sebagai bentuk pertolongan kepada PMI Magetan, dia berencana memanggil Direktur RSUD dr Sayidiman dr Yunus Mahatma Andre. Kang Woto ingin memastikan apakah selama ini rumah sakit milik pemkab itu mengambil darah dari PMI Magetan atau tidak.

Sebab, pihaknya sempat memperoleh informasi jika permintaan darah dari RSUD dr Sayidiman ke PMI terbatas. Padahal, kasus demam berdarah (DB) marak. ‘’Kalau RSUD dr Sayidiman dan rumah sakit lainnya di Magetan mengambil darah di PMI, saya kira masalah bisa terpecahkan. Tapi, saya belum cek persoalan tersebut,’’ terang Kang Woto.

Sebelumnya, Kepala PMI Magetan dr Sudewo Pangestu mengungkapkan pihaknya harus mengeluarkan sekitar Rp 150 juta per tahun untuk kebutuhan operasional. Dana sebesar itu dipakai memenuhi kebutuhan permintaan darah pasien. Namun, pada kenyataannya stok darah yang terdistribusikan hanya 2.300 kantong pada tahun lalu.

Sehingga, kantong darah yang tersisa harus dimusnahkan. Sementara, biaya pemusnahan darah yang sudah kedaluwarsa itu besar. Tahun lalu saja PMI Magetan mengalami defisit keuangan sekitar Rp 30–40 juta untuk biaya pemusnahan kantong darah. (bel/c1/her)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here