Madiun

Cara Unik Niko Martha Whiyana Berbagi Ilmu Fotografi

Niko Martha Whiyana memiliki cara tersendiri memajukan dunia fotografi di Madiun. Pria itu membuka kelas fotografi gratis yang diberi nama Madiun Photography. Sejak dibuka pada 2009 lalu, kelas itu sudah menetaskan lima angkatan.

——————

DILA RAHMATIKA, Madiun

SEJUMLAH pemuda mulai berdatangan di lantai 2 sebuah kafe Jalan HOS. Cokroaminoto itu. Mengambil tempat duduk yang nyaman, mereka bersiap menyimak materi seputar fotografi. Tak lama berselang, Niko Martha Whiyana muncul dan memulai kelas fotografi tersebut.

Selama hampir dua jam, diskusi berlangsung gayeng. Suasananya mencair. Sesekali Okin –sapaan akrab Niko Martha Whiyana- melontarkan guyonan segar. ‘’Hari ini materinya tentang editing dasar fotografi,’’ kata Okin.

Okin membuka kelas fotografi yang diberi nama Madiun Photography itu sejak November 2009. Sebelumnya, dia bekerja di sebuah jasa fotografi yang dikelola Anton Ismael di Jakarta. Lalu, sempat berpindah ke Bali dan Jogjakarta. Ketika memutuskan pulang ke Madiun, dia melihat banyak fotografer bagus. Hanya, wawasannya masih fokus untuk pekerjaan, bukan karya.

Bukan hanya itu, dia melihat fotografer di Madiun bersifat homogen. Nyaris semua relasi maupun kenalan bergelut di bidang foto prewedding. ‘’Sebenarnya sah-sah saja, tapi pemain foto wedding di Madiun sudah terlalu banyak,’’ papar warga Jalan Mayjen Sungkono ini.

Okin pun lantas membuka kelas fotografi secara cuma-cuma. Kelas pertama, muridnya hanya empat orang. Pertemuan berlangsung seminggu sekali di sebuah warung kopi Jalan Serayu. ‘’Di luar jam itu, kalau mau tanya-tanya bisa datang ke rumah atau ketemuan di luar untuk praktik langsung,’’ ujarnya.

Materi yang diajarkan berisi rangkuman disiplin ilmu fotografi yang didapat ketika kuliah di Jogjakarta. Mulai penguasaan kamera dan cahaya, dasar-dasar bahasa gambar, hingga elemen grafis. ‘’Materi benar-benar dari dasar. Jadi, peserta bisa mengarahkan skill fotografinya ke arah yang lain. Misalkan foto food and beverage, product, fashion, dan sebagainya,’’ bebernya.

Menjalani kelas fotografi ternyata tidak mudah. Ada peserta yang tidak betah saat sampai di pemahaman seputar elemen grafis. Belum lagi adanya tugas tambahan. ‘’Biasanya pada ngilang. Padahal, itu wajib dikerjakan, dicetak, dan dikumpulkan. Hanya yang benar-benar serius yang bertahan,’’ sebutnya.

Okin lantas mengajak para alumni dan fotografer luar Madiun membuat kelas yang lebih ‘’ringan’’ dan aplikatif untuk kehidupan sehari-hari. ‘’Yang saat ini sudah berjalan enam kali pertemuan namanya Ruanxcahaya,’’ ungkap lulusan Seni Fotografi Akademi Desain Visi Jogjakarta itu.

Bicara soal seni fotografi, Okin lebih enjoy memotret ilustrasi. Baginya, ilustrasi yang baik adalah yang bisa membantu audiens memahami maksud dari sebuah tulisan. ‘’Favorit saya foto ilustrasi, karena di situ saya bisa bebas mengaplikasikan bahasa gambar untuk menyampaikan ide,’’ katanya. ***(isd/c1)

Baca Lagi

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
               
         
close